BERITABANGSA.ID, JEMBER – Pemerintah setengah hati dalam menangani kecelakaan laut yang sering dialami para nelayan di Kabupaten Jember. Belum ditemukannya 6 nelayan Jember, yang hilang saat melaut sejak 28 Juni 2025 lalu hingga sekarang, merupakan bukti konkretnya.
Koordinator Basarnas Pos SAR Jember, Andi Irawan begitu mendapat laporan hilangnya 6 orang nelayan pada 29 Juni 2025 lalu, memilih menjalankan prosedur dengan mendata ciri-ciri perahu dan menginformasikan kepada seluruh jajaran Basarnas di kawasan pesisir laut selatan.
Langkah pertama itu diambil, mengingat kondisi cuaca masih ekstrem, ditambah sarana fasilitas kapal yang dimilikinya, tidak layak mengarungi laut selatan.
“Saat itu cuaca memang tidak baik, gelombang (laut) cukup tinggi, sementara alut (alat utama) yang kami miliki di Pos SAR Jember itu tidak memiliki jangkauan yang jauh, yang kami miliki hanya perahu karet dan kapal kecil yang jangkauannya tidak lebih dari 4 knot/mile,” ujar Koordinator Basarnas Pos SAR Jember, Andi Irawan.
Menginjak tanggal 30 Juni sampai 1 Juli, belum ada upaya untuk melakukan pencarian di laut.
Koordinator Basarnas Pos SAR Jember, Andi Irawan lantas menginisiasi untuk menyewa kapal yang lebih besar milik nelayan, dan berunding dengan para pemangku organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Jember, terkait biaya secara gotong-royong.
Pada tanggal 02 Juli 2025, Basarnas dan para pihak terkait, TNI dan Polri mengumpulkan 6 keluarga nelayan di Kantor Kecamatan Puger. Di sana dibahas upaya pemerintah merencanakan tindakan pencarian dengan menyewa kapal besar, biaya ditanggung pemerintah.
Di hari ke-5 itu tanggal 02 Juli 2025 pemerintah belum melakukan tindakan pencarian di laut. Lanjutkan membaca dengan klik tombol angka di bawah


















