Kemudian Elly pulang pukul 01.00 WIB pada Sabtu dini hari, 28 Juni 2025. “Saat saya gerak untuk pulang, lampu dari perahu yang ditumpangi Ahmad Basori dan rombongan itu masih terlihat menyala, saya pulang dengan selamat,” lanjut Elly.
Elly mengaku, keluarga dari adik iparnya itu mulai gelisah pada 28 Juni siang. Kata dia, keluarga adik iparnya kemudian bergegas ke rumah Vira, anak dari Mistawi, pemilik perahu atau juragan.
Akhirnya 28 Juni malam, keluarga dari Mistawi melapor ke Satpolairud Polres Jember, yang menurut petugas saat itu, laporan akan dikoordinasikan ke Basarnas Pos SAR Jember.
Keluarga korban kembali membuat laporan pada 29 Juni, kali ini laporan disampaikan melalui instagram resmi Basarnas @sar_nasional, yang kemudian admin akun instagram itu menjawab telah meneruskan laporan ke Basarnas Pos SAR Jember dan SAR gabungan.
Koordinator Pos SAR Jember, Andi Irawan menyampaikan saat menerima laporan, pihaknya tidak langsung melakukan tindakan pencarian terhadap 6 nelayan itu dikarenakan cuaca ekstrem dan tidak adanya kapal SAR.
“Kami mendapatkan informasi pertama kali dari TNI Pos AL pada 29 Juni 2025 sore, informasi tersebut terkait adanya kapal “lost contact” yang POB-nya ada 6 orang saat bekerja menangkap ikan di laut. Kami merespon dengan cara memberikan informasi kepada rekan-rekan jajaran kami yang berada di sepanjang pesisir pantai selatan, mulai dari Pantai Grajagan, Lampon, Puger, Lumajang sampai ke Sendang Biru dengan harapan masyarakat atau nelayan di wilayah tersebut bisa melaporkan apabila menjumpai ciri-ciri perahu dan 6 nelayan yang hilang. Saat itu cuaca memang tidak baik, gelombang (laut) cukup tinggi, sementara alut (alat utama) yang kami miliki di Pos SAR Jember itu tidak memiliki jangkauan yang jauh, yang kami miliki hanya perahu karet dan kapal kecil yang jangkauannya tidak lebih dari 4 knot/mile,” ujar Koordinator Basarnas Pos SAR Jember, Andi Irawan.

Sebagai solusi, Andi memutuskan untuk menyewa kapal yang lebih besar milik nelayan setempat. Dia mengklaim, keputusan menyewa kapal nelayan itu sudah izin ke pimpinan. Dia lantas mengarahkan Riska (narahubung dari 6 keluarga korban) untuk mencari informasi biaya sewa kapal nelayan dan estimasi bahan bakar yang diperlukan. Riska juga hadir dalam sesi wawancara tersebut. Lanjutkan membaca dengan klik tombol angka di bawah


















