Berita Utama

Sampai Kapan Pemerintah Setengah Hati Mencari Nelayan yang Hilang di Laut?

170
×

Sampai Kapan Pemerintah Setengah Hati Mencari Nelayan yang Hilang di Laut?

Sebarkan artikel ini
Nelayan
Lalu lintas perahu nelayan di Pantai Pancer, Puger Jember. (Foto: Guntur Rahmatullah / Beritabangsa.id)

“Nah berhubung di Pantai Puger itu alut (alat utama) kita tidak ada yang besar, maka saya tanyakan kepada Ibu Riska, ada kah alut yang lebih besar punya nelayan yang bisa kami gunakan, itu kenapa saya meminta Ibu Riska untuk mencari kapal supaya bisa kami gunakan dalam melakukan pencarian. Sewa kapal berapa, nominalnya Rp.3 sampai 4 juta (biaya sewa kapal besar),” ujar Andi.

Sebelumnya, anak dari Mistawi (pemilik perahu atau juragan), Vira memang melakukan pencarian secara mandiri dengan menyewa 2 perahu. Pencarian secara mandiri berlangsung selama 3 hari yakni pada 29 Juni hingga 01 Juli 2025, namun ikhtiar itu tidak membuahkan hasil. Dengan dasar ini, Riska mendapat informasi dari Vira mengenai biaya sewa perahu dan estimasi konsumsi BBM yang diperlukan.

Koordinator Basarnas Pos SAR Jember Berujar Siap Bantu Setengah Biaya BBM

Wartawan kemudian menanyakan, apakah ketika terjadi kecelakaan laut, dengan kondisi keterbatasan alat, keterbatasan biaya, apakah difasilitasi negara sepenuhnya atau memang diperbolehkan dukungan dari keluarga korban atau semua ditanggung negara?

“Kita tidak pernah membebankan (biaya) kepada keluarga korban, dan itu bisa silakan dikonfirmasi kepada Ibu Riska, sepeser pun tidak ada anggaran yang dibebankan kepada keluarga korban, maka nya kami stakeholder yang ada itu merumuskan bagaimana langkah selanjutnya, operasi yang akan dilakukan besok dan itu formulanya sudah ada, dan semua (stakeholder di Jember) telah sepakat bahwa seluruh biayanya itu negara yang tanggung,” jawab Andi seraya mengarahkan tangannya kepada Riska yang duduk di sebelahnya.

Riska kemudian menimpali pernyataan Andi Irawan.

“Mungkin yang itu loh pak, yang 50 persen-50persen,” kata Riska.

Wartawan lanjut menanyakan, yang mengajukan fifty-fifty itu siapa?

“Pak Andi,” jawab Riska.
“Gini pak Andi bilang gini, awalnya bilang BBM,” lanjut Riska.

Pada moment ini, Andi Irawan terlihat membantu menyempurnakan kalimat yang diucapkan oleh Riska. Sehingga terjadi saling sahut-menyahut antara Andi dan Riska.

“Siap dukung BBM, iya,” kata Andi.

“Emang ada itu yang bapak bilang itu fifty-fifty, mungkin nanti kita sumbang separuhnya, nah itu awalnya. Awalnya saya menawarkan, pak langsung berhubungan dengan mbak Vira saja, terus pak Andi tidak mau karena laporannya atas nama saya jadi saya yang disuruh ke mbak Vira. Pak Andi telpon saya, dia tanya BBM-nya habis berapa mbak, kemudian saya tanyakan ke Vira didapatkan informasi estimasi BBM yang dibutuhkan itu 150 liter perhari, kemudian saya telpon pak Andi lagi, saya bilang pak habisnya (BBM) segini, kemudian pak Andi lapor ke pimpinannya, ya awalnya memang pak Andi bilang saya bantu separuhnya. Informasi ini juga saya sampaikan lagi ke mbak Vira,” ujar Riska. Lanjutkan membaca dengan klik tombol angka di bawah

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60