Publik Service

Waduh, Menu Sayur yang Tercampur Ulat untuk Balita Stunting di Jombang Ternyata dari Dinkes

136
×

Waduh, Menu Sayur yang Tercampur Ulat untuk Balita Stunting di Jombang Ternyata dari Dinkes

Sebarkan artikel ini
Sayuran belatung
Tampak penerima bantuan stunting, saat menunjukkan kuah bening yang diduga ada belatungnya. Foto : Kiriman warga for Faiz Beritabangsa.id.

BERITABANGSA.ID – JOMBANG – Menu pemberian makanan tambahan (PMT) lokal untuk balita stunting dan ibu hamil (bumil) pada program pos perbaikan gizi (PPG) yang tidak layak konsumsi ternyata ditentukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang.

Menu PMT yang ada dalam PPG disediakan oleh pihak III, melalui e-katalog. Harga untuk masing-masing menu berbeda.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, satu menu PMT lokal dalam PPG itu, ada dua macam. Untuk PMT bumil dibanderol dengan harga kisaran Rp18.500, dengan rincian nasi, ayam goreng, sayur, dan buah pisang.

Sedangkan untuk PMT lokal untuk balita stunting dibandrol dengan harga kisaran Rp14.500, dengan komposisi menu, nasi, ayam goreng, sayur, pisang dan dua butir telur puyuh.

Ironisnya, ada temuan makanan tidak layak konsumsi yang diterima oleh Bumil dan balita stunting di Kantor Kecamatan Sumobito, dan Bareng.

Bahkan, dalam PMT lokal untuk bumil terdapat ulat yang tercampur dalam sayur sop. Kondisi ini membuat warga melakukan penolakan dan komplain pada Dinkes Jombang, sebagai pihak yang paling bertanggungjawab.

Sekretaris Dinkes Jombang, Saiful membenarkan adanya komplain dari masyarakat terkait kelayakan PMT lokal dalam PPG. Sehingga PPG yang baru jalan sehari dihentikan. Termasuk adanya temuan ulat dalam sayur PMT lokal.

“(Sayur sop ada ulatnya) iya, yang jelas secara pasti saya kurang tau, tapi saya dapat informasi gitu, makanya itu (PPG) dihentikan. Sehingga kita anggap itu total loss. PPG itu dimulai kemarin dan dihentikan. Harusnya PPG akan dilakukan selama 30 hari ke depan,” kata Saiful pada Selasa (14/11/2023) siang.

Ia pun mengaku karena adanya permasalahan makanan PMT lokal tak layak konsumsi, maka PPG yang digawangi Dinkes Jombang, melalui Puskesmas di masing-masing kecamatan dihentikan.

“Tetapi karena sudah ada permasalahan, otomatis bahwa qualitiy control dari penyedia kan tidak baik, maka akhirnya kami hentikan,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

banner 300600
banner 300600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 300600