Opini

Ketika Dapur SPPG Libur, Siapa Sebenarnya yang Untung?

1
×

Ketika Dapur SPPG Libur, Siapa Sebenarnya yang Untung?

Sebarkan artikel ini
SPPG

Oleh : Achmad Fuad Afdlol*

Turunnya harga telur, ayam, lele, hingga sayur-mayur setelah dapur SPPG libur membuat sebagian masyarakat tersenyum.

Masyarakat merasa diuntungkan karena pengeluaran rumah tangga menjadi lebih ringan. Namun, benarkah harga murah selalu menjadi kabar baik?

Di balik murahnya harga pangan, ada peternak yang kesulitan menutup biaya produksi. Ada petani yang terpaksa menjual hasil panen dengan keuntungan yang sangat tipis. Ada pelaku UMKM pemasok bahan pangan yang kehilangan pasar.

Ketika harga jatuh terlalu dalam, yang pertama menanggung beban bukanlah konsumen, melainkan para produsen yang setiap hari mempertaruhkan modal, tenaga, dan waktu.

Inilah ironi yang sering luput dari perhatian. Masyarakat menikmati harga murah, tetapi lupa bahwa harga murah yang tidak sehat dapat mematikan usaha rakyat. Jika peternak ayam, peternak lele, peternak telur, dan petani sayuran terus merugi, siapa yang akan memproduksi pangan beberapa bulan ke depan?

Keberadaan dapur SPPG selama ini bukan sekadar menyediakan makanan bergizi. Program tersebut juga menjadi penggerak ekonomi lokal karena menyerap hasil produksi petani dan peternak. Ketika permintaan besar tercipta, roda ekonomi desa ikut berputar. Uang beredar, usaha bertahan, dan lapangan pekerjaan ikut hidup.

Perdebatan antara harga murah dan harga tinggi sebenarnya adalah perdebatan tentang keseimbangan. Konsumen membutuhkan harga yang terjangkau, tetapi produsen juga berhak memperoleh keuntungan yang layak.

Negara tidak boleh hanya melihat kepentingan satu pihak. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan petani dan peternak tidak menjadi korban.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar harga murah atau harga mahal, melainkan harga yang adil. Harga yang membuat masyarakat tetap mampu membeli, tetapi juga memberikan kehidupan yang layak bagi mereka yang memproduksi pangan.

Jika program seperti SPPG terbukti mampu menjadi pasar bagi hasil pertanian dan peternakan lokal, maka keberlanjutan program tersebut patut dijaga dengan tata kelola yang baik, transparan, dan akuntabel.

Sebab ketika permintaan berhenti, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu dua orang, melainkan merambat ke seluruh rantai ekonomi daerah.

Murah bagi konsumen memang menyenangkan. Tetapi jika murah itu lahir dari penderitaan petani dan peternak, maka ada yang perlu dievaluasi. Sebab ketahanan pangan tidak dibangun dari harga yang jatuh, melainkan dari keseimbangan antara kesejahteraan produsen dan kemampuan beli masyarakat.

*) Penulis adalah Wartawan Tingkat Madya dan Anggota PWI Lumajang

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60