Keagamaan

Kajian Bidayatul Hidayah di Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Kupas Amanah Kepemimpinan dalam Islam

1
×

Kajian Bidayatul Hidayah di Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Kupas Amanah Kepemimpinan dalam Islam

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa bin Zen Al-Aydrus, S.Si, saat mengisi pengajian. Foto: Mwd, Beritabangsa.id.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Kajian rutin Kitab Bidayatul Hidayah di Majelis Ar-Rohimin, Rabu (1/7/2026), menghadirkan Habib Musthofa bin Zen Al-Aydrus, S.Si sebagai pemateri sekaligus Pengasuh Majelis Ar-Rohimin.

Dalam pengajiannya, ia mengupas ajaran Imam Al-Ghazali mengenai cara seorang mukmin memandang kehidupan, mulai dari hakikat nikmat, makna ujian, hingga besarnya amanah yang melekat pada setiap bentuk kepemimpinan.

Menurut Habib Musthofa, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa seluruh keadaan yang dialami manusia sejatinya merupakan pemberian Allah SWT. Karena itu, seorang hamba dituntut memiliki cara pandang yang benar dalam menyikapi setiap peristiwa yang datang dalam hidupnya.

“Ketika memperoleh kesenangan, seorang hamba diperintahkan untuk bersyukur. Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, ia diperintahkan bersabar. Semua nikmat yang Allah berikan, termasuk tubuh dan kehidupan, harus dimanfaatkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya,” jelasnya.

Dalam Kitab Bidayatul Hidayah dijelaskan bahwa nikmat Allah terbagi menjadi dua. Pertama, nikmat yang sesuai dengan keinginan manusia, yaitu segala sesuatu yang membawa kebahagiaan dan manfaat.

Kedua, nikmat yang tidak sesuai dengan keinginan manusia, yakni musibah atau ujian yang pada hakikatnya mengandung hikmah, kebaikan, serta pahala apabila dihadapi dengan kesabaran.

Habib Musthofa menegaskan, manusia kerap memaknai nikmat sebatas kesehatan, kekayaan, keberhasilan, atau kebahagiaan.

Padahal menurut Imam Al-Ghazali, sesuatu yang tampak tidak menyenangkan pun dapat menjadi nikmat apabila menjadi jalan menuju kebaikan di sisi Allah.

“Nikmat bukan hanya yang membuat kita senang. Kesulitan pun bisa menjadi nikmat jika mengantarkan seseorang kepada ampunan, kesabaran, dan kedekatan kepada Allah,” terangnya.

Ia mencontohkan berbagai nikmat yang lazim dirasakan manusia, seperti kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu pengetahuan, hingga kesempatan melakukan amal saleh. Semua itu harus disyukuri, bukan sekadar dengan lisan, melainkan diwujudkan melalui ketaatan dan penggunaan nikmat tersebut untuk hal-hal yang diridhai Allah SWT.

Sementara itu, ujian berupa kehilangan, kesempitan hidup, maupun berbagai persoalan kehidupan tidak boleh dipandang semata sebagai musibah. Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, ujian dapat menjadi sarana penghapus dosa, pendidikan kesabaran, sekaligus jalan mendekatkan diri kepada Allah, selama dijalani dengan sikap sabar, qanaah, dan tidak berburuk sangka kepada-Nya.

Pembahasan kemudian berlanjut pada pentingnya menjaga amanah yang melekat pada setiap manusia. Habib Musthofa menjelaskan bahwa amanah tidak hanya berkaitan dengan jabatan atau harta, melainkan juga seluruh anggota tubuh yang telah Allah titipkan.

Mata, misalnya, merupakan amanah yang harus digunakan untuk melihat perkara yang baik. Telinga menjadi amanah untuk mendengarkan nasihat dan ilmu yang bermanfaat.

Demikian pula lisan wajib dijaga dari ucapan yang menyakiti, dusta, ghibah, maupun perkataan yang tidak bernilai. Seluruh anggota badan, katanya, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60