Keagamaan

Pengajian Majelis Ar-Rohimin Merefleksi Pergantian Tahun Masehi

23
×

Pengajian Majelis Ar-Rohimin Merefleksi Pergantian Tahun Masehi

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Habib Musthofa Alaydrus Bin Zen, Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Asemrowo, Surabaya.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Pengajian rutin Rabu malam Majelis Ar-Rohimin bertepatan dengan malam pergantian Tahun Baru Masehi berlangsung khidmat dan sarat pesan reflektif. (31/12/2025)

Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Alaydrus bin Zen menyampaikan kajian keislaman yang menyoroti fenomena perayaan malam tahun baru yang dinilai kian menjauh dari nilai-nilai Islam dan budaya luhur masyarakat Indonesia.

Habib Musthofa mengawali kajiannya dengan menggambarkan keprihatinan terhadap euforia pergantian tahun yang sering kali diwujudkan dalam bentuk hura-hura, pesta berlebihan, dan perilaku yang membuka ruang kemaksiatan.

Menurutnya, perayaan semacam itu tidak hanya mencerminkan krisis spiritual, tetapi juga berpotensi menumpulkan kesadaran moral umat.

Ia menegaskan bahwa Islam memandang waktu sebagai amanah. Setiap pergantian masa seharusnya menjadi momentum muhasabah, bukan sekadar ajang pelampiasan kesenangan sesaat.

“Tidaklah bencana turun di atas muka bumi ini, kecuali karena banyaknya kedurhakaan dan kemaksiatan manusia kepada Allah,” tutur Habib Musthofa mengutip firman Allah dalam kajiannya.

Dalam konteks malam 1 Januari, ia menilai potensi kemaksiatan kerap meningkat. Mulai dari pesta minuman keras, pergaulan bebas, hingga aktivitas yang melalaikan kewajiban kepada Allah.

Semua itu, menurutnya, lahir dari cara pandang yang menempatkan kesenangan duniawi sebagai tujuan utama, tanpa mempertimbangkan konsekuensi spiritual dan sosial.

Habib Musthofa kemudian mengutip firman Allah yang maknanya, “Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama engkau, wahai Muhammad, berada di tengah-tengah mereka.” Ayat ini, lanjutnya, mengandung pelajaran penting.

Pada masa para nabi terdahulu, seperti Bani Israil, Allah menurunkan berbagai bentuk azab berupa banjir, angin, suara dahsyat, hingga bumi yang dilipat, sebagai konsekuensi atas pembangkangan kolektif. Namun, hal tersebut tidak terjadi di masa Rasulullah SAW.

Meski Nabi Muhammad SAW telah wafat, Habib Musthofa menekankan bahwa umat Islam masih memiliki benteng perlindungan, yakni dengan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dan memperbanyak istighfar.

Allah juga berfirman bahwa Dia tidak akan menyiksa suatu kaum selama mereka senantiasa memohon ampun kepada-Nya.

“Malam 1 Januari rawan turunnya bencana karena begitu banyak maksiat yang terjadi. Maka imbangilah dengan menghidupkan sunnah Rasulullah dan memperbanyak istighfar,” ujarnya.

Ia mengajak jamaah menjadikan pergantian tahun sebagai ruang introspeksi diri, memperbaiki niat, serta memperkuat hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Habib Musthofa menutup kajian dengan harapan agar umat Islam tidak larut dalam arus budaya global yang tidak sejalan dengan nilai tauhid.

Ia mengingatkan bahwa keselamatan individu dan masyarakat tidak ditentukan oleh kemeriahan perayaan, melainkan oleh kualitas iman, amal, dan kesadaran spiritual.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60