Keagamaan

Kajian di Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Kupas Amanah Kepemimpinan dalam Islam

7
×

Kajian di Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Kupas Amanah Kepemimpinan dalam Islam

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa bin Zen Al-Aydrus, S.Si, saat mengisi pengajian. Foto: Mwd, Beritabangsa.id.

Pada sesi berikutnya, Habib Musthofa menguraikan pembahasan mengenai konsep kepemimpinan atau al-imam dalam pandangan Imam Al-Ghazali.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan simbol kehormatan, melainkan amanah besar yang membawa konsekuensi pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Seorang pemimpin, lanjutnya, memiliki kewajiban menjaga hak-hak rakyat, menegakkan keadilan, memenuhi kebutuhan masyarakat, serta menghindarkan diri dari segala bentuk kezaliman.

Kekuasaan tidak boleh dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi, tetapi harus dijalankan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah melalui pelayanan kepada sesama.

Prinsip yang sama berlaku dalam lingkup keluarga. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga memikul tanggung jawab membimbing keluarganya, memberikan nafkah yang halal, menjaga keselamatan mereka, sekaligus mengarahkan anggota keluarga menuju kehidupan yang diridhai Allah.

Adapun seorang istri diposisikan sebagai penjaga amanah di dalam rumah tangga. Ia bertanggung jawab menjaga kehormatan keluarga, mengelola urusan rumah tangga dengan baik, serta memelihara amanah yang dipercayakan suaminya.

Habib Musthofa juga menjelaskan bahwa setiap orang yang menerima tugas atau kepercayaan, termasuk pelayan maupun pekerja, memiliki tanggung jawab moral untuk menjalankan amanah tersebut secara jujur dan profesional. Besar ataupun kecil tanggung jawab yang diemban tetap akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Penjelasan tersebut diperkuat dengan hadis Rasulullah SAW, yang artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadis yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim itu menjadi landasan bahwa setiap bentuk kepemimpinan, baik dalam pemerintahan, keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan sosial, mengandung konsekuensi moral dan spiritual yang tidak dapat dihindari.

Karena itu, menurut Habib Musthofa, semakin besar kedudukan seseorang, semakin besar pula amanah yang dipikulnya.

Seorang pemimpin semestinya lebih banyak merasa takut kepada Allah daripada berbangga terhadap jabatan yang dimiliki, sebab kemuliaan sejati terletak pada kemampuan menunaikan amanah dengan penuh kejujuran dan keadilan.

Kajian ditutup dengan pembacaan syair yang mengingatkan bahwa seluruh amal, ucapan, dan niat manusia akan dihisab oleh Allah SWT.

Syair tersebut menjadi pengingat agar setiap muslim senantiasa menjaga akhlak, menjauhi kemaksiatan, memperbanyak amal kebajikan, serta memanfaatkan kehidupan dunia sebagai bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60