Keagamaan

Kajian Majelis Ar-Rohimin: Habib Musthofa Ingatkan Pentingnya Menjaga Lisan dan Anggota Tubuh

3
×

Kajian Majelis Ar-Rohimin: Habib Musthofa Ingatkan Pentingnya Menjaga Lisan dan Anggota Tubuh

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Suasana saat rutinan Rabu malam di Gedung Majelis Ar-Rohimin, Asemrowo, Surabaya.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Kesadaran untuk menjaga setiap anggota tubuh sebagai amanah Allah menjadi pokok bahasan dalam kajian rutin Kitab Bidayatul Hidayah yang digelar Majelis Ar-Rohimin, Rabu (8/7/2026) malam.

Bertempat di Gedung Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Asemrowo, Surabaya, pengajian yang diasuh Habib Musthofa bin Zein Al-Alydrus itu mengajak jamaah memahami makna pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah pada Hari Kiamat.

Dalam kajian tersebut, Habib Musthofa mengulas penjelasan Imam Al-Ghazali mengenai kesaksian anggota tubuh sebagaimana termaktub dalam Surah Yasin ayat 65.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, lalu tangan mereka berbicara kepada Kami dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Menurut Habib Musthofa, ayat tersebut menggambarkan kesempurnaan keadilan Allah ketika seluruh amal manusia dihadirkan tanpa ada sedikit pun yang dapat disembunyikan.

Pada Hari Pembalasan, manusia tidak lagi memiliki kesempatan mengingkari dosa maupun membela dirinya dengan kebohongan.

Merujuk Kitab Bidayatul Hidayah, ia menjelaskan bahwa mulut orang-orang kafir maupun para pelaku maksiat akan ditutup sehingga mereka tidak dapat memberikan alasan ataupun bantahan.

Sebaliknya, tangan, kaki, mata, telinga, dan anggota tubuh lainnya akan menjadi saksi atas seluruh perbuatan yang pernah dilakukan selama hidup di dunia.

“Allah memperlihatkan seluruh amal manusia dengan keadilan yang sempurna. Tidak ada satu pun perbuatan, sekecil apa pun, yang luput dari perhitungan-Nya,” terang Habib Musthofa di hadapan jemaah.

Ia juga memaparkan dua pandangan ulama dalam menafsirkan ayat tersebut. Pendapat pertama menyatakan bahwa Allah benar-benar menjadikan mulut manusia terkunci, sedangkan tangan dan kaki berbicara secara hakiki sebagai saksi atas amal perbuatannya.

Sementara itu, pendapat kedua memaknai “berbicara” sebagai tampaknya bukti-bukti yang begitu jelas melalui anggota tubuh sehingga seluruh perbuatan manusia menjadi nyata dan tidak mungkin lagi diingkari.

Kedua penafsiran tersebut sama-sama menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam mengungkap seluruh catatan amal setiap hamba.

Habib Musthofa menegaskan bahwa setiap anggota tubuh merupakan titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, lisan harus dijaga dari ucapan yang menyakiti, tangan dijauhkan dari perbuatan zalim, mata dipelihara dari pandangan yang diharamkan, telinga digunakan untuk mendengar kebaikan, serta kaki diarahkan menuju majelis ilmu dan amal saleh.

Menurutnya, kesadaran tersebut merupakan implementasi nilai muraqabah, yakni keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap ucapan, tindakan, bahkan lintasan hati manusia.

Nilai itu menjadi fondasi pembentukan akhlak yang baik sekaligus mendorong setiap muslim untuk terus memperbaiki diri sebelum datang hari perhitungan.

Dalam kesempatan yang sama, pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, mengajak jemaah menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperkuat keimanan sekaligus memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak sehari-hari.

Menurutnya, ilmu yang dipelajari tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan, melainkan harus tercermin dalam perilaku yang lebih santun, jujur, serta penuh tanggung jawab.

“Majelis ini bukan hanya tempat menambah wawasan agama, tetapi juga tempat menempa hati agar semakin dekat kepada Allah. Ilmu akan menjadi cahaya apabila diamalkan. Karena itu, mari kita biasakan menghisab diri setiap hari, menjaga lisan, menjaga hati, dan memanfaatkan seluruh anggota tubuh untuk kebaikan sehingga hidup kita dipenuhi keberkahan,” tutur H. Abdul Rohim.

Sebagai penguat pesan kajian, Habib Musthofa menyampaikan hikmah yang diriwayatkan para ulama, “Man hasaba nafsahu fid-dunya khaffa hisabuhu fil akhirah”, yang berarti, “Barang siapa menghisab dirinya di dunia, maka akan ringan hisabnya di akhirat.”

Hikmah tersebut menjadi pengingat agar setiap Muslim senantiasa melakukan muhasabah, memperbanyak amal saleh, serta memanfaatkan setiap nikmat yang diberikan Allah sebagai jalan menuju keridaan-Nya.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60