Keagamaan

Meluruskan Tradisi Salah Kaprah Agama Bersama Agus Mustofa di Kajian Subuh

85
×

Meluruskan Tradisi Salah Kaprah Agama Bersama Agus Mustofa di Kajian Subuh

Sebarkan artikel ini
Salah kaprah
Ustaz Ir. H. Agus Mustofa saat mengisi Kajian Subuh di Masjid Al-Haq, Rungkut, Surabaya.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Masjid Al-Haq Surabaya kembali menggelar kajian subuh rutinnya dengan menghadirkan Ustaz Agus Mustofa sebagai narasumber, Minggu (23/11/2025).

Pada kesempatan tersebut, penulis buku-buku keislaman progresif itu membedah tema yang cukup sensitif namun relevan, yakni salah kaprah dalam beragama Islam.

Ia menekankan bahwa banyak praktik keagamaan di tengah masyarakat yang dijalani secara turun-temurun tanpa pernah dikritisi kembali secara serius.

Menurutnya, salah kaprah muncul ketika sesuatu yang keliru dianggap lazim, diterima luas, dan dijalankan tanpa kesadaran epistemik.

Fenomena seperti ini, kata Agus Mustofa, terjadi karena umat lebih memilih mengikuti tradisi daripada memeriksa kebenaran berdasarkan ajaran Al-Qur’an.

“Di dalam Islam terdapat istilah noro’ bunte’ dalam tradisi Madura, atau suwargo nunut, neroko katut dalam budaya Jawa. Ini merupakan simbol dari taklid buta, yaitu mengikuti tanpa memahami. Sikap seperti ini tidak diperbolehkan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap manusia kelak dimintai pertanggungjawaban atas akal, penglihatan, dan nuraninya. Karena itu, beragama dengan akal sehat merupakan prinsip dasar Islam.

Al-Quran sendiri berulang kali memerintahkan umat untuk berpikir, merenungi, dan memahami, sebagaimana dalam ungkapan afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala yandzurun, hingga afala yafqahun.

Salah satu contoh salah kaprah yang masih beredar, kata Agus Mustofa, adalah anggapan bahwa menggunakan akal dalam memahami agama dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa.

Pandangan seperti ini tidak hanya keliru, tetapi bertentangan dengan pesan Al-Quran yang justru mendorong perenungan intelektual.

Ia menegaskan bahwa pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan juga merupakan kekeliruan besar. Banyak masyarakat menganggap bahwa ilmu sains modern berasal dari Barat dan tidak berkaitan dengan Islam, seolah-olah agama hanya berkisar pada salat, zakat, puasa, dan haji.

Padahal Al-Quran memuat ratusan ayat terkait pengetahuan, alam semesta, dan perenungan ilmiah.

Agus Mustofa juga menyinggung perkembangan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, penggunaan AI diperbolehkan selama dipahami sebagai alat. Dalam Islam, alat adalah sarana untuk memperluas ilmu dan memudahkan manusia.

“Untuk memahami agama saja kita membutuhkan alat, misalnya pemahaman bahasa Arab. Begitu pun teknologi, termasuk AI, adalah bagian dari perangkat kehidupan yang harus ditempatkan secara proporsional,” jelasnya.

Ia memberi peringatan bahwa masalah terbesar umat bukanlah kurangnya aktivitas ritual, tetapi minimnya kesadaran atas makna di balik ritual tersebut.

Banyak orang bangun pagi untuk salat subuh karena mengikuti kebiasaan orang tua, bukan karena memahami esensi spiritual maupun manfaatnya. Tradisi yang dijalankan tanpa pengetahuan berpotensi menjadi rutinitas hampa yang kehilangan nilai.

Agus Mustofa menegaskan kembali prinsip dasar yang harus dipegang oleh umat Islam: beragama harus dilakukan dengan keikhlasan dan kesadaran penuh. Tidak ada paksaan dalam Islam.

Karena itu, setiap informasi keagamaan perlu ditelaah dan diverifikasi (tabayyun), terlebih di era digital ketika arus informasi begitu deras dan tidak selalu memiliki sumber otoritatif.

Fenomena salah kaprah seperti ini bukan barang baru dalam masyarakat Indonesia. Banyak praktik keagamaan yang tumbuh dari tradisi lokal, mitos, atau pemahaman yang tidak pernah dikaji ulang.

Mulai dari ritual tertentu yang tidak memiliki landasan kuat, hingga pandangan yang membatasi ruang dialog antara agama dan ilmu pengetahuan.

Kesadaran kritis sering kali dianggap bertentangan dengan kesalehan, padahal Islam justru meminta umatnya untuk berpikir, bertanya, dan mengkaji.

Kajian ini menjadi refleksi penting bahwa umat perlu mengembalikan agama kepada substansinya: mencari kebenaran dengan akal, hati, dan ilmu.

Dengan memahami ajaran bukan sekadar meniru, umat diharapkan mampu menjalankan agama secara lebih matang dan bertanggung jawab.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60