Oleh : Aries Harianto*
ORANG akan tersenyum ketika tahu, Propesor ternyata akronim menggelitik dari Protolan Pemuda Ansor. Namun sebagian orang juga apriori, sinis dan khawatir. Terutama kalangan yang memandangnya dari kaca mata politis. Ada praduga melekat dengan beragam kekhawatiran.
Seolah Propesor adalah wadah baru gerakan NU dalam jalur politik praktis. Dinilai sebagai sempalan komunitas nahdliyin yang tengah mencari bentuk. Haus validasi dan narcistik. Sementara orang juga berpendapat, Propesor sebagai new comer kelompok penekan. Penekan di internal NU maupun otoritas struktural.
Keberadaannya liar dan ilegal. Apapun respon orang, sungguh sangat manusiawi. Demokrasi membuka ruang respon publik. Reformasi sarat dengan saling silang polemik.
Pada prinsipnya, Propesor merupakan wadah. Kristal kerinduan. Tanpa donasi, apalagi atribut organisasi. Propesor ada dan terus berkegiatan atas dasar patungan integritas moral.
Silaturrahmi merawat peluk dan jabat tangan sesama nahdliyin. Simpul lalulintas pemikiran. Wahana curhat kebangsaan. Sarana berbagi informasi. Alat untuk saling memberi nasihat.
Pelangi yang menampilkan beragam perspektif kearifan atas berbagai persoalan. Cermin untuk menjawab keterbatasan diri akan pentingnya lalulintas diskusi. Komunitas pelembagaan aksi bertoleransi. Bahkan tidak berlebihan jika disebut sebagai kelompok kritis yang berorientasi pada multi sentris. Corong membangun budaya literasi serta alat untuk mengkampanyekan urgensi etis berkhidmad guna menjaga istiqomah warga NU.
Ada diksi yang menggelitik dalam Propesor. Kata ‘protolan’. Protolan berasal dari kata protol. Dalam bahasa Jawa dipahami sebagai bagian yang lepas dari induk. Protol dalam konteks protolan Pemuda Ansor, bukan perkumpulan biasa dan bukan orang-orang sisa. NU tidak mengenal kader sisa. Protol dalam hal ini tidak lebih dari identitas yang tak lagi berada dalam struktur kepengurusan. Protol bukan karena diprotol, namun wujud kearifan akhlak dan kesadaran berorganisasi guna melakukan kaderisasi. Protolan Pemuda Ansor tetap menyimpan komitmen perjuangan dan jihad nahdliyin dalam menjawab beragam persoalan umat.
Menyimpan hingga masuk ke dalam tulang. Dengan demikian PROPESOR ada bukan karena sengaja diadakan. Propesor lahir sebagai refleksi kesadaran akan pentingnya merawat sensitifitas keumatan yang telah ditanam para pendiri NU. Natural dan tetap mengedepankan rasional.
Protolan merupakan kata yang sengaja dilekatkan. Dipilih karena kata protol sangat membumi. Akrab di telinga. Acapkali diucapkan oleh siapapun. Protol sesungguhnya selalu ada dalam berbagai siklus alam. Terus terjadi dalam hidup dan kehidupan.
Mahluk manusia boleh tiada, namun siklus fungsinya akan terus berulang. Orang-orang Propesor tidak abadi. Pada saatnya mati. Namun kematian justru menjadi rahim Propesor Propesor baru dengan ragam persoalan umat yang baru serta menuntut metode menjawab secara baru pula.
Protol merupakan cermin akar cultural. Kelas bawah karena Propesor memang berkiprah diranah itu. Tanpa legalitas karena moralitas diyakini mampu menjadi pupuk untuk merawat tumbuhkembangnya.NU kini banyak menjadi sasaran kritik.


















