Opini

Dari Kanvas ke Korteks Prefrontal: Ketika Seni Mengubah Cara Otak Merasakan Dunia

60
×

Dari Kanvas ke Korteks Prefrontal: Ketika Seni Mengubah Cara Otak Merasakan Dunia

Sebarkan artikel ini
Widyanti Wulan Sari

Oleh: Widyanti Wulan Sari (*)

Di tengah dunia yang semakin cepat, penuh tekanan, dan sarat distraksi digital, seni sering kali dipandang sebelah mata sebagai hiburan, pelarian, atau sekadar aktivitas estetika. Padahal, di balik goresan kuas dan warna-warna yang tertuang di kanvas, tersembunyi kekuatan biologis yang mampu mengubah cara kerja otak manusia. Seni bukan hanya soal ekspresi, ia adalah proses neurologis yang kompleks, yang mampu menyentuh inti terdalam dari sistem saraf kita.

Dalam beberapa dekade terakhir, ilmu neuroscience mulai menyoroti bagaimana aktivitas kreatif seperti melukis, menggambar, atau membuat kolase dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak. Penelitian-penelitian ini membuka pintu bagi pemahaman baru bahwa seni bukan hanya ekspresi emosional, tapi juga intervensi biologis yang dapat membantu penyembuhan, penguatan identitas, dan bahkan rekonstruksi neurologis.

Salah satu studi penting dari Frontiers in Psychology (2024) mengungkap bahwa aktivitas seni dapat merangsang neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk membentuk jalur saraf baru. Ketika seseorang melukis atau menggambar, area seperti prefrontal cortex (pengatur emosi dan pengambilan keputusan) dan amigdala (pusat emosi) menjadi aktif. Studi lain dari PLOS One yang dilakukan oleh Anne Bolwerk, dimana studi ini mengikutsertakan sebanyak 28 orang dewasa sehat, dibagi menjadi dua kelompok.

Studi ini berlangsung selama 10 minggu tiap sesi mingguan. Peneliti membagi mereka menjadi dua kelompok, kelompok pertama sebanyak 14 orang diberikan tugas untuk membuat karya seni dengan bimbingan seniman, sedangkan 14 orang lainnya diberikan tugas untuk menganalisis karya seni di museum dengan panduan sejarawan seni. Studi ini meneliti hasil dengan menggunakan fMRi dan skala ketahanan psikologis.

Hasil temuan yang peneliti dapatkan yaitu terdapat peningkatan signifikan konektivitas antara korteks parietal dan korteks frontal yang terkait dengan area regulasi emosi dan kognisi pada kelompok pertama yang membuat karya seni sendiri. Sedangkan pada kelompok kedua, yang dimana mereka hanya menganalisis karya seni, tidak ada peningkatan yang signifikan kecuali sedikit perubahan pada korteks parietal kanan. Lebih dari itu, tinjauan sistematis oleh American Psychological Association menunjukkan bahwa jenis media seni yang digunakan, apakah cat air, tanah liat, atau media digital dapat menstimulasi bagian otak yang berbeda.

Dalam studi tersebut juga menjelaskan mengenai teknologi seperti Mobile Brain/Body Imaging (MoBI) yang memungkinkan para peneliti melihat secara langsung bagaimana otak bereaksi saat seseorang berkreasi. Pendekatan penelitian multidisiplin ini memungkinkan untuk seseorang memahami bagaimana otak dapat berfungsi saat seseorang bergerak, beraktivitas serta melakukan tugas sehari-hari seperti biasa.

Seni, dalam konteks ini, bukan hanya ekspresi emosional, tapi juga aktivitas neurologis yang dapat diukur dan dianalisis. Temuan para peneliti ini mendukung penggunaan terapi seni untuk meningkatkan ketahanan psikologis dan fungsi otak, terutama dalam proses pencegahan penurunan fungsi korteks.

Adanya proses yang mempengaruhi intervensi biologis, dapat membantu mempengaruhi sistem limbik dan korteks secara bersamaan. Itu artinya, seni mampu menjangkau lapisan terdalam dari otak yang mengatur emosi, memori, dan persepsi diri.

Sayangnya, di Indonesia, terapi seni masih berada di pinggiran wacana kesehatan mental. Praktisi seperti Mutia Ribowo dari Art+i telah berjuang memperkenalkan pendekatan ini sebagai metode pemulihan trauma, terutama bagi anak-anak dan penyintas kekerasan. Namun, kurangnya dukungan institusional, minimnya pelatihan formal, dan belum adanya regulasi membuat profesi ini belum mendapat tempat yang semestinya.

Padahal, pendekatan seperti Art Therapy Relational Neuroscience (ATR-N) yang dikembangkan oleh Joselin dan koleganya menunjukkan bahwa seni dapat membantu seseorang mengakses memori implisit, mendesensitisasi respons stres, dan membangun narasi diri yang sehat.

Seni menjadi jembatan antara pengalaman emosional dan pemrosesan neurologis, sebuah ruang di mana penyembuhan bisa terjadi secara holistik.

Di beberapa negara, terapi seni telah digunakan secara aktif dalam rehabilitasi pasien stroke, penderita PTSD, dan bahkan dalam perawatan paliatif. Di rumah sakit, klinik, dan pusat rehabilitasi, seni menjadi bagian dari protokol penyembuhan yang diakui secara medis.

Indonesia belum sampai ke tahap itu, dan inilah celah yang perlu dijembatani. Salah satu konsep menarik yang muncul dari riset neuroscience adalah bahwa seni dapat mengaktifkan sistem mirror neurons, neuron yang memungkinkan kita merasakan dan memahami emosi orang lain.

Ketika seseorang melihat karya seni atau menciptakannya, sistem ini aktif dan menciptakan resonansi emosional yang mendalam. Inilah yang membuat seni menjadi alat yang sangat efektif dalam membangun empati dan koneksi sosial.

Selain itu, seni juga melibatkan interosepsi, yaitu kemampuan untuk merasakan kondisi internal tubuh. Melalui proses kreatif, seseorang dapat lebih sadar akan ketegangan, rasa sakit, atau emosi yang terpendam. Ini menjadikan seni sebagai alat refleksi diri yang sangat kuat, terutama bagi mereka yang kesulitan mengungkapkan perasaan secara verbal. Sudah waktunya kita berhenti melihat seni sebagai pelengkap atau pelarian.

Seni adalah alat pemulihan, penguatan identitas, dan bahkan rekonstruksi neurologis. Dengan mengintegrasikan seni ke dalam pendekatan psikologi, pendidikan, dan bahkan kebijakan publik, kita membuka ruang baru bagi pemulihan yang lebih manusiawi dan berbasis bukti.

Sekarang, coba kita bayangkan jika sekolah-sekolah di Indonesia tidak hanya mengajarkan seni sebagai mata pelajaran wajib, tapi juga sebagai alat pengembangan emosi dan mental. Bayangkan juga jika rumah sakit menyediakan ruang seni sebagai bagian dari terapi pemulihan. Dan bayangkan jika komunitas lokal menjadikan seni sebagai media untuk menyembuhkan luka sosial dan trauma kolektif. Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia dalam sehari, tapi dengan satu goresan kuas, kita bisa mulai mengubah perspektif kita terhadap suatu hal.

(*) Penulis adalah mahasiswi FKIP-BK Universitas Mochammad Sroedji Jember

Tulisan opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, atau bukan tanggung jawab redaksi beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60