Oleh Moch Eksan*
Memang, Rocky Gerung bukanlah tokoh intelektual independen yang pertama yang takluk pada kekuasaan. Banyak contoh ilmuwan kampus yang pada akhirnya menjadi pelayan kekuasaan.
Apalagi, pelaksanaan roda pemerintahan membutuhkan tehnokrasi kebijakan dan anggaran yang memerlukan ilmuwan kampus untuk merancang, melaksanakan dan mengawasi jalannya pemerintahan.
Michael Foucault telah mewanti-wanti para cerdik pandai agar selalu ingat tugas utamanya dalam relasi dengan kekuasaan, bila tidak ia akan terjebak semata untuk melayani bahasa penguasa.
Padahal, tugas utamanya, menurut Edward Said, intelektual itu speaking truth to power (berbicara kebenaran pada kekuasaan).
Pertama, ia selalu menyuarakan kebeneran secara mandiri tanpa tersandera oleh kekuasaan.
Kedua, ia punya kapasitas moral dan pengetahuan untuk mengoreksi, mengkritisi dan mempertanyakan segala bentuk dominasi.
Ketiga, ia juga punya tradisi berfikir kritis untuk mengembangkan gagasan otonom serta bebas dari bias kepentingan politik praktis.
Sebenarnya, Rocky telah menjalankan tugas utama intelektual di atas. Sampai ia menjadi idola bagi kelompok yang berseberangan dengan kekuasaan selama ini.
Banyak orang yang jatuh cinta kepada Rocky. Ia acapkali dinilai mewakili pemikiran dan suasana kebatinan rakyat vis a vis negara. Namun kini, setelah ia bergabung dengan rezim Prabowo-Gibran, tak sedikit orang yang patah hati atas keputusannya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Komentar satire banyak bermunculan. Irma Suryani Chaniago misalnya, sambil tertawa mengatakan: “Selama ini menyala-nyala luar biasa keras, semua dikomentari, semua dikritisi, semua didungu-dungukan, ternyata cuma berharap jadi Wantimpres”.
Publik berhak ragu terhadap pilihan Rocky masuk ke dalam kekuasaan. Meskipun, ia meyakinkan seluruh rakyat bahwa ia sekadar pindah posisi dari luar ke dalam kekuasaan. Ia akan tetap kritis dengan prinsip radical break.















