Opini

ICMI Jangan Sampai Menjadi Besar

1
×

ICMI Jangan Sampai Menjadi Besar

Sebarkan artikel ini
ICMI

Oleh: Dr.Aries Harianto, S.H., M.H.,C.Med

Nuansa harmoni begitu terasa. Bersemayam kesejukan dibalik kehangatan obrolan di sela acara pengukuhan pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia – Jatim di Grahadi Surabaya, 19 Sept 2026, kemarin.

Ngumpul para cerdik cendekia, pakar, pengurus, penasihat dengan beragam warna, reputasi, disiplin dan profesi. Komunitas pakar berkelakar. Pengurus ber-tiktok rumus. Saling lempar joke, dibalut kedalaman ilmu. Jauh dari membosankan. Ditambah informasi baru soal geopolitik dan disrupsi yang mewarnai perubahan sosial dalam landscape lintas negara. Fakta fakta tersebut diurai oleh Ketua ICMI Pusat dan enak dipahami.

Diskusi soal sana sini terus berlangsung tanpa menghakimi. Teduh menyejukkan tanpa menuduh, apalagi menyalahkan. Pendek kata, rasan rasan Indonesia dalam sengkarut problematika menjadi akumulasi isu strategis.

Di rumah cendekiawan terpatri kesadaran. Keberagaman adalah keniscayaan. Perbedaan golongan tidak menjadi topik pembicaraan. Bursa gagasan lebih dikedepankan. Pesan pesan disampaikan melalui i’tibar. Dilandasi kedalaman epistem multi pandang dan pendekatan.

Mereka, kalangan cendekiawan telah tuntas menapak kematangan. Sengaja berkumpul dan dikumpulkan atas dasar kesamaan frekuensi : rasa terusik. Cendekiawan itu tak henti berpikir dan memikirkan. Terus bertanya dan mempertanyakan. Para cerdik cendekia itu berpikir rasional transendental. Bertutur arif meneduhkan. Menampakkan gestur kerendahan hati dan peduli. Mereka, cendekiawan. Melekat potret diri. Tak butuh validasi, apalagi tepuk tangan kanan kiri.

Lalulintas obrolan menyenggol beragam topik. Bil khusus rekonstruksi peran ICMI. Peran yang berafiliasi Rahmatan Lill-alamiin sebagai grundnorm nasihat. Ad-diinu an nashihah sebagai fundamen sumber amanah. Diwujudkan sesuai kebutuhan konteks dalam bentuk evaluasi dan kritik. Dengan harapan dapat menjadi referensi solusi dan pengendalian diri.

Nasihat adalah refleksi Tauhid sekaligus penegasan akan keyakinan pada ajaran Rasulullah. ICMI merupakan oase nasihat dalam ekosistem kolaboratif egaliter. Produsen di satu pihak, akomodatif di pihak lain dalam suatu relasi.

Hidup dan kehidupan berbangsa dewasa ini tengah butuh nasihat. ICMI pantang untuk diam. Bertopang daku tanpa melakukan transformasi nilai nilai. ICMI dituntut menjadi tuntunan, bukan tontonan. Melibatkan diri dalam semua episode. Memahami konsekuensi menjadi tidak populis. Mengerti alur politik tidaklah cukup. ICMI dengan potensi dan keterbatasannya diharapkan menjadi penentu alur tanpa harus menjalin relasi politik konsinyasi, kontraktual dan berorientasi rente.

ICMI bukan kumpulan orang orang yang mengisolasi. Suara ICMI dibutuhkan. Entah dalam nota pernyataan, rumusan berpikir hingga skala sikap.

Tak ada alasan pembenar, ICMI memposisikan diri menjadi alat. ICMI adalah wahana membangun maslahat plus meretas manfaat. Term mitra jauh lebih tepat, sehingga para kader sumber daya di dalamnya bekerja dengan merdeka. ICMI adalah simbol kemerdekaan itu sendiri sebagai ‘penterjemah’ konstitusi, menabur kebhinnekaan dengan tetap membuka ruang pemikiran pihak lain. Semua berurat berakar dari nilai-nilai Islami. Tentu saja berikut pengayaan pemikiran sebagai gagasan.

ICMI merupakan representasi intelektual. Memformulasi variabel secara metodis. Mengkonstruksi gagasan tanpa meniadakan pakem Islami. Mengkomunikasikan produk secara efektif. Dilandasi kearifan yang menjunjung rasa humanis. Rohman – Rohim, paling tidak sebagai disain instruksional.

Di sinilah urgensi policy brief sebagai produk akademis ICMI guna merespon problema geopolitik dan berbagai potensi destruktif. Karenanya, ICMI tidak perlu menjadi besar, namun dampaknya yang harus besar. Demikian closing statement Ketua ICMI Jatim dalam pengukuhannya. Bahkan, menurut hemat saya, ICMI tidak harus pintar, namun piawai menabur kearifan di tengah rimba kebijakan yang sarat ketidakpastian dan potensi saling cakar.

(*) Penulis adalah Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia – Jatim, bergelar doktor, SH, MH, CMed

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60