Oleh Moch Eksan*
Berapa hari ini, saya bolak balik baca struktur dan personalia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2027-2031, nama Dr (HC) KH Yahya Cholil Staquf tak ditemukan. Saya berulangkali memerika di jajaran mustasyar, syuriah, a’wan, dan tanfidziyah, mantan Ketua Umum PBNU Periode lalu, tak tercantum.
Dalam kabinet KH Miftahul Akhyar dan KH Abdul Halim Mahfudz, Gus Yahya benar-benar tak masuk. Dia satu-satunya kandidat Ketua Umum yang tak mendapatkan posisi apapun dalam Struktur PBNU Sekarang.
Berbeda halnya dengan 3 kandidat Ketua Umum yang lain, seperti Dr (HC) Zulfa Mustofa (Rois Syuriah), KH Abdul Salam Sohib (A’wan), dan Dr KH Abdul Gaffar Rozin (Wakil Ketua Umum). Padahal, suara Gus Yahya nomor ke-4 dengan suara sebesar 258 suara.
Dengan sistem pemilihan umum yang berubah dari makanisme pemilihan langsung pada sistem Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dengan memilih 5 besar perolehan suara terbanyak dari hasil pemilihan peserta muktamar, 5 nama kandidat Ketua Umum semestinya masuk untuk menguatkan jajaran PBNU mendatang.
Rupanya, Gus Yahya paling tak dikehendaki oleh Kiai Miftah sebagai Rois Aam, sebab dalam catatannya, mantan Juru Bicara Presiden Gus Dur ini melakukan perlawanan terhadap aksi pemecatannya oleh Rapat Harian Syuriah sebagai otoritas tertinggi organisasi.
Inilah rezim PBNU yang paling tak berkompromi dengan musuh politiknya dibandingkan dengan masa Dr (HC) KH Hasyim Muzadi, Prof Dr KH Said Aqiel Siradj MA, dan Gus Yahya sendiri. Padahal, pertarungan masa itu jauh lebih sengit dan panas daripada masa pemilihan Ketua Umum kemarin.
Kiai Hasyim memperlakukan lawan pesaingnya pada Muktamar NU ke-30 Lirboyo, dengan strategi “merangkul”. Kiai Said pada kabinetnya masuk dalam jajaran Ketua Tanfidziyah PBNU Periode 1999-2004.
Kiai Said juga sama memperlakukan mantan kompetitornya pada Muktamar NU ke-32 Makassar dengan strategi “merangkul” pula. Slamet Effendy Yusuf pada rezimnya ditunjuk sebagai Wakil Ketua Umum PBNU Periode 2010-2015.















