Keagamaan

Pengajian Majelis Ar-Rohimin Merefleksi Pergantian Tahun Masehi

23
×

Pengajian Majelis Ar-Rohimin Merefleksi Pergantian Tahun Masehi

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Habib Musthofa Alaydrus Bin Zen, Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Asemrowo, Surabaya.

Hukum merayakan malam tahun baru Masehi dalam perspektif Islam

Dalam pandangan mayoritas ulama, perayaan malam tahun baru Masehi tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Tahun baru Masehi merupakan penanda kalender sipil yang lahir dari tradisi dan sejarah non-Islam. Karena itu, hukum perayaannya bergantung pada bentuk dan niat pelaksanaannya.

Jika perayaan tersebut mengandung unsur maksiat, seperti minum-minuman keras, ikhtilat tanpa batas, melalaikan shalat, atau perilaku hura-hura yang bertentangan dengan syariat, maka hukumnya jelas haram.

Hal ini didasarkan pada kaidah fiqih bahwa segala aktivitas yang mengantarkan pada keharaman, maka hukumnya juga haram.

Apabila peringatan tahun baru dilakukan sekadar sebagai penanda waktu, tanpa ritual khusus, tanpa menyerupai perayaan keagamaan lain, dan tidak mengandung kemaksiatan, sebagian ulama memandangnya sebagai perkara mubah.

Namun, kemubahan ini tetap bersifat terbatas dan tidak dianjurkan jika berpotensi melalaikan atau menormalisasi budaya yang tidak sejalan dengan nilai Islam.

Secara kekinian, problem perayaan tahun baru bukan lagi sekadar soal kalender, tetapi pola konsumsi dan gaya hidup.

Perayaan sering kali dipaketkan dengan industri hiburan, pesta, dan budaya hedonistik yang mendorong pemborosan serta degradasi moral.

Dari sudut pandang maqashid syariah, kondisi ini bertentangan dengan tujuan menjaga akal, jiwa, dan moral masyarakat.

Karena itu, banyak ulama dan tokoh agama menganjurkan agar umat Islam mengalihkan momentum pergantian tahun menjadi sarana muhasabah, doa bersama, pengajian, dan refleksi diri.

Sikap ini dinilai lebih rasional, relevan, dan sejalan dengan nilai Islam, sekaligus menjadi bentuk perlawanan kultural terhadap arus globalisasi yang cenderung permisif.

Senada dengan pengasuh Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, pembina Majelis Ar-Rohimin membenarkan apa yang disampaikan oleh Habib Musthofa.

Ia menambahkan, malam perayaan tahun Baru Masehi tidak harus dengan pesta yang berlebihan, namun lebih kepada mawas diri dan mematangkan pemikiran ke arah yang lebih positif dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

“Maka dari itu saya mengajak kepada semua saudara-saudara saya untuk hadir di majelis-majelis taklim, dimanapun itu, sebagai edukasi bekal kita untuk memperoleh ridho Allah,” tuturnya kepada Beritabangsa.id.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60