Dengan begitu, ke depan anak-anak di desa setempat dan juga para pelajar di daerah sekitar dapat belajar membuat kerajinan topeng, karena bahan bakunya tersedia.
Sementara itu, akademisi dari Unesa, Doktor Setyo Yanuartuti mengungkapkan, banyak yang dapat digali dari Wayang Topeng Jatiduwur. Baik untuk edukasi dan bahan literasi bagi generasi muda.
Pada kesempatan itu, Setyo Yanuartuti juga membawa batik bercorak Panji yang dibuat oleh mahasiswa Unesa.
Setyo Yanuartuti juga berkomitmen untuk mengirim mahasiswanya belajar ke Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, seperti melalui program Kuliah Kerja Nyata atau KKN.
Sementara itu, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang, Arif Yulianto mengatakan, karena Wayang Topeng Jatiduwur adalah salah satu instrumen Panji yang merupakan kemandirian bangsa dalam bidang sastra, maka warisan dari Ki Purwo itu harus dijaga.
“Termasuk juga nilai-nilai ajaran budi pekerti dari Wayang Topeng Jatiduwur diedukasikan kepada para generasi muda,” kata Arif Yulianto.
“Dan yang juga penting adalah perlu dinarasikan dengan benar tentang sosok Ki Purwo dan kapan pastinya Wayang Topeng Jatiduwur ini dibuat,” pungkas Arif Yulianto.
Setelah Jagongan Budaya, acara dilanjutkan dengan proses ritual ziarah dan kirim doa ke makam Ki Purwo. Sejumlah duriyah Ki Purwo hadir dengan berjalan kaki dari Sanggar Tri Purwo Budoyo, menuju makam sejauh 600 meter.
Dipandu Gus Hakim, pembacaan tahlil dan kirim doa dilakukan dengan khidmat. Setelah itu melaksanakan tabur bunga ke makam Ki Purwo dan duriyah yang telah meninggal dan dimakamkan di sekitarnya.
Pasca prosesi itu, dilanjutkan jalan kaki napak tilas menuju Punden, Ki Purwo, lokasinya 400 meter dari makam. Di sana ditumbuhi dua pohon beringin. Di lokasi itu diyakini lokasi Ki Purwo bertapa hingga mendapat wisik warisan dua buah topeng, berkarakter Panji (Kelono) dan Sekartaji. Dari situlah konon dari ceritanya, Ki Purwo, mengembangkan menjadi seni Wayang Topeng, irama khas Majapahit CekDong.
Di lokasi Punden, seluruh duriyah dan pengikut; masyarakat tua muda, laki perempuan, duduk memutar. Mengelilingi dua topeng asli yang dibawa di atas nampan dan tumpeng.
Sebelumnya kirim doa pertama dilakukan oleh perwakilan dzuriyah Ki Purwo, Uwak Giman, dengan mengeluarkan dua topeng asli dari sarungnya. Lalu komat- kamit memanjatkan doa kepada sang Khalik, sambil menaungkan asap dupa yang mengepul, tanda komunikasi.


















