BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Di tengah derasnya arus modernisasi, warisan budaya keris dinilai menghadapi ancaman yang jauh lebih serius daripada sekadar karat pada bilahnya. Ancaman terbesar justru terletak pada memudarnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung di balik setiap lekuk dan pamor keris.
Hal tersebut disampaikan penggiat barang antik sekaligus penyinta keris asal Lumajang, Yudhi, yang menegaskan bahwa pelestarian keris tidak cukup hanya dilakukan melalui perawatan fisik. Menurutnya, yang paling penting adalah menjaga ajaran, filosofi, dan kearifan yang diwariskan para empu Nusantara.
“Banyak orang mengira melestarikan keris cukup dengan membersihkan karat di bilahnya. Padahal yang paling esensial bukan pada besinya, melainkan pada ajarannya. Kalau hanya bilahnya yang dirawat tetapi nilai-nilainya ditinggalkan, maka sejatinya kita sedang kehilangan ruh dari keris itu sendiri,” ujar Yudhi, saat ditanyai wartawan, Sabtu (25/7/2026).
Ia menjelaskan, keris bukan sekadar senjata tradisional atau benda koleksi bernilai tinggi. Keris merupakan mahakarya budaya yang sarat dengan pesan moral, spiritual, serta pendidikan karakter yang diwariskan turun-temurun.
Menurut Yudhi, setiap bentuk keris, baik keris lurus maupun keris berluk, memiliki makna simbolik yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia.
“Di balik setiap bentuknya terdapat bahasa diam yang mengajarkan perjalanan hidup manusia, mulai dari lahir, menjalani kehidupan, hingga kembali kepada Sang Pencipta. Dalam falsafah Jawa dikenal sebagai wiwitan, tengahan, lan pungkasan. Ini bukan sekadar simbol, tetapi pedoman hidup,” jelasnya lagi.
Lebih jauh, Yudhi menuturkan bahwa para empu pada masa lampau tidak hanya menempa logam menjadi sebilah keris. Mereka juga menitipkan doa, harapan, serta petunjuk kehidupan melalui setiap pamor, ricikan, dan bentuk bilah yang dibuat dengan penuh perenungan.
“Sang empu tidak hanya membuat karya seni. Di setiap guratan pamor beliau menitipkan doa, di setiap ricikan beliau menanamkan arah hidup yang bijaksana. Semua itu menjadi pesan agar pemilik keris mampu hidup selaras, terarah, dan harmonis dengan alam semesta,” bebernya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut kini mulai terlupakan karena sebagian masyarakat lebih memandang keris dari sisi mistis, harga jual, atau sekadar benda antik bernilai ekonomi.
“Keris jangan dipersempit hanya sebagai pusaka bertuah atau barang koleksi. Keris adalah media pendidikan karakter yang diwariskan leluhur. Di dalamnya ada nilai kejujuran, kesabaran, kebijaksanaan, keberanian, hingga tanggung jawab terhadap kehidupan,” tegasnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk mengenal keris melalui pendekatan budaya, sejarah, dan filsafat agar tidak terjebak pada berbagai stigma maupun mitos yang berkembang di masyarakat.
“Generasi muda harus memahami bahwa keris adalah identitas bangsa. Selama nilai-nilai yang diajarkan para empu terus diamalkan, maka keris akan tetap hidup. Dan selama keris hidup dalam kehidupan masyarakat, jati diri bangsa Indonesia juga akan tetap terjaga,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya tidak cukup berhenti pada aspek fisik semata. Merawat bilah keris memang penting, namun menjaga ajaran yang terkandung di dalamnya merupakan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Di tengah perubahan zaman, pelestarian nilai-nilai budaya dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat karakter bangsa. Sebab, ketika filosofi luhur yang diwariskan leluhur tetap hidup di tengah masyarakat, maka warisan budaya tidak hanya menjadi benda bersejarah, tetapi juga menjadi pedoman moral yang relevan bagi kehidupan masa kini dan masa depan.


















