Sekira 15 menit berbincang, saya berasumsi mungkin warga lokal satu ini ada benarnya. Meski jalur positivistik di otak saya mengatakan mungkin hanya kebetulan dia tahu isi pikiran saya. Atau mungkin memang mistisme kebudayaan Jawa itu selama ini masih ada.
Seperti kisah Raden Mas Karebet yang sakti mandraguna.
Selama ini saya selalu berasumsi bahkan mungkin menjadi segelintir teori dalam benak bahwa mistisisme merupakan sebuah kepercayaan yang tumbuh dari halusinasi yang menjadikan hal-hal tersebut absurd dan tidak dapat terjangkau.
Namun pemahaman ini terkadang saya bantah sendiri. Absurditas dalam mistisme itu menjadi nyata kala pengalaman bersifat empiris itu muncul di kedua mata.
Dalam reaksi kultur Jawa menggambarkan misitimse merupakan bagian dari kekayaan. Diantaranya, bagi manusia Jawa, konsep kehidupan ditarik dari kedalaman relasi manusia dengan alamnya. Alam sebagaimana ada dalam benak manusia Jawa adalah kosmos. Orang-orang Jawa mengenal kosmos besar dan kosmos kecil. Metode penerapannya askesitis.
Jika ditarik lebih jauh lagi, mistisme Jawa tak bisa dilepaskan dari masa lampau pengaruh kepercayaan. Sebelum agama-agama yang kini dikenal, animisme dinamisme terlebih dahulu merepresentasikan manusia Jawa pada umumnya. Pengaruh itu bisa dilihat hingga kini ketika orang-orang menganggap benda di sekitar dengan penghormatan. “Mbah itu, Mbah ini, dan Mbah” yang lain-lain. Atau masyarakat Jawa bagian tengah yang memakai idiom “Ki, Kiai.”
Mungkin bisa disadari bahwa kegiatan keterlibatan manusia dalam penerapan misitsme sama sekali bukanlah kiprah “intelektual” yang borjuistik, yang tergila-gila pada gagasannya yang cemerlang, spekulatif, juga bukan seluruh bisnis ilmiah. Keterlibatan itu bertumpu pada kendali Tuhan yang bermanifestasi dalam diri manusia.
(*) Penulis adalah praktisi hukum dan pengamat sosial.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.id.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















