Trik Belanda adalah dengan cara menyediakan nona-nona Belanda dalam pesta tersebut dan menggunakan uang sebesar 500 Gulden untuk pelaut Indonesia. Para pelaut ini menolak untuk hadir. Martin Paradja dan Gosal, bagian dari kelompok pemberontakan memilih untuk menguasai Kapal Tujuh Provinsi ketimbang bergabung dalam pesta pada malam hari. Martin Paradja dan Gosal berhasil menduduki kapal dan mengambil alih kapal.
Keesokan harinya, pada 5 Februari 1933 1933 pemimpin pasukan pemberontakan mengeluarkan siaran pers dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Belanda, dan Inggris.
Pada intinya kapal De Zeven Provincien telah diambil alih dan sedang bergerak ke Surabaya dengan tujuan yang sama yaitu memprotes pemotongan gaji.
Akibatnya, pemerintah Hindia Belanda menjadi semakin ketat mengawasi gerakan tokoh nasionalis. Misalnya saja Sultan Syahrir dan Bung Hatta menjadi dibuang ke Boven Digul, sedangkan Soekarno di buang ke Ende.
Pemberontakan yang dipimpin Paridja dan Kawilarang semakin memanas. Kalangan Bumiputra mulai menguasai tempat penyimpanan senjata dan amunisi serta menahan beberapa perwira kapal. Setelah kejadian itu, Menteri Urusan jajahan Belanda, Hendrikus Colijn, memberi tindakan tegas bagi mereka yang memberontak sekaligus melarang untuk memberitakan peperangan yang terjadi, tetapi, berita tersebut bocor oleh pembajak berita di kapal.
Seperti terlansir dari artikel jurnal berjudul “Protes Sosial di Kapal Perang: Pemberontakan Marinir Bumiputra di Kapal De Zeven Provincien 1933” Tjatja Soematra, salah satu koran yang terbit di Padang menerbitkan artikel tentang perlawanan awak kapal.
“waktoe pemberontakan terdjadi 2 orang officier melompat ke dalam sekotji motor jang telah diboeat roesak sehingga terpaksa officier-officier itoe mendajoeng dan dalam tempo 2 setengah djam baharoe mereka itoe sampai kedaratan”.


















