Catatan

Moralitas Insan Religius

220
×

Moralitas Insan Religius

Sebarkan artikel ini
Moralitas insan manusia
Bagaskara Dwi Pamungkas (Demisioner Ketua Rayon Sosial UIJ)

Tujuan hidup manusia sebagai seorang hamba pada hakekatnya adalah mengenal dan berbakti kepada Tuhan. Totalitas bertakluk tunduk terhadap kemauan Tuhan. Aktivitas tersebut sebagai pengejawantahan konsep keimanan diri.

Senyampang kehendak agama, sedikitnya ada perkara nyata yang layak mendapatkan atensi khusus dari manusia selaku khalifah fil ardh, yaitu perjuangan atas kedaulatan manusia lainnya, sekaligus melestarikan lingkungan yang telah Tuhan titipkan kepada manusia.

Scroll untuk melihat berita

Manusia terlahir dan meninggalkan dunia tidak dengan kehendak dan pengharapannya sendiri. Ia adalah makhluk. Tuhanlah yang menjadikan manusia berbeda dengan mahkluk lain.

Sifat, akal, lahiriah, dan ruhaninya lebih indah, lebih tinggi dibandingkan hewan, jin, dan malaikat.

Tuhan cukup berbaik terhadap manusia, dengan cara memberikan apa yang Tuhan tidak berikan kepada makhluk lainnya, yaitu akal atau pikiran.

Dengan manusia dikaruniai pikiran, sudah selayaknya menggunakannya untuk hal-hal yang positif.

MH Ainun Najib, budayawan, pernah membangun logika menarik dengan menggunakan tiga cara pandang, yaitu idealisme, intuisi dan keislaman.

Menurut Cak Nun, biasa disapa, konsep dasar Islam bukan hanya Alquran dan Hadist, melainkan juga pikiran dan hati manusia.

Apakah kemudian manusia menunggu dalil hanya untuk tidak berbuat jahat terhadap manusia lainnya?
Sementara hati dan pikiran manusia mengetahui bagaimana rasanya apabila ada orang yang melukai kita.

Ibrah dari pada logika yang dibangun Cak Nun tersebut, secara eksplisit menegaskan agar manusia dengan maksimal menggunakan akal, hati, sekaligus moral religius secara arif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *