BERITABANGSA.ID, JOMBANG- Ritual pencucian wayang Topeng Ki Purwo, Desa Jati Duwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, di Sanggar Tri Purwo Budoyo,
berlangsung sakral, Selasa (7/7/2026).
Diawali pembukaan kotak topeng berjumlah 33 karakter oleh Sulastrri Widiyanti, pengelola wayang Topeng, yang juga merupakan dzuriyah atau keturunan ke-7 Ki Purwo, lalu dilanjutkan penyajian sandingan, sajen, dupa, dan minyak wangi,
Sesepuh wayang Topeng Ki Purwo, Mbah Giman, melakukan pelepasan dari sarungnya, kemudian diikuti seluruh cucu, cicit dan canggah, kemudian diletakkan di meja beralaskan kain putih.
Dalam pengantarnya, Isma Hakim Rahmat, yang juga suami Sulastri, ini memberikan narasi singkat tujuan pencucian topeng di bulan Asyuro ini sebagai tradisi ritual warisan yang turun temurun dilakukan untuk menghormati karya agung Ki Purwo, pembawa kesenian wayang topeng pertama di Jati Duwur, dan kini menjadi satu satunya kesenian tradisional wariaan Majapahit yang dimiliki Kabupaten Jombang.
“Mari kita panjatkan doa, dan kirim Fatikah kepada cangga Purwo, dan seluruh dzuriyah yang telah wafat, dengan harapan beliau-beliau ditempatkan di surganya Allah SWT, gusti ingkang murbeng dumadi dan kita berharap kesenian warisan ini akan tetap lestari dan berkembang,” ujar Mas Hakim biasa disapa.
Setelah doa berbahasa Arab yang dipimpin Mas Hakim, dilanjutkan penghormatan haturan pembakaran dupa untuk menambah aura sakral dan sejuk bagi yang hadir mengikuti ritual. Kemudian dilanjutkan doa berbahasa Jawa yang disampaikan oleh Ki Budi, dari Pare Kediri, budayawan.
Posisi topeng 33 karakter ditempatkan di atas meja, kemudiandi bawahnya ada sesajen dan dupa. Di sampingnya ada among – among terdiri dari 5 piring nasi lengkap lauk pauk, 5 gelas kopi, 5 batang rokok, seperangkat alat nginang, dan tempat air bunga 7 rupa.
Usai diamini oleh seluruh dzuriyah yang hadir , 3 buah topeng asli yakni : Klono (warna emas) dan Panji (warna hijau botol), ditempatkan di nampan. Kemudian seluruh dzuriyah dipimpin Sulastri, berjalan berarak menuju Makam Ki Purwo, di kompleks pemakaman umum setempat, untuk melakukan kirim doa dan tahlil.
Tahlil singkat dipimpin Mas Hakim, dan dilanjutkan mengarak 3 wayang Topeng asli menuju Punden, salah satu tempat sakral di desa ini. Konon, Punden yang ditumbuhi pohon beringin kembar itu sebagai muasal Ki Purwo, menerima kemunculan dua topeng warna emas dan hijau tersebut saat bertapa.
Rombongan pun menuju ke Punden. Biasanya pengarak Topeng berjalan kaki dari Sanggar, ke Makam, hingga Punden, namun tahun ini dilakukan naik mobil mengingat cuaca sedang panas terik, dan dzuriyahnya banyak anak kecil dan ibu-ibu.
“Kalau proses jalan, tidak masalah digantikan naik mobil. Kemarin ada tamu juga dari Surabaya, sebaanyak 2 mobil, ditambah keluarga ada dua mobil. Jadi menambah kekhidmatan,” beber Mas Hakim, yang juga koordinator acara.
Tarik Kupat Luar Satu-satunya di Indonesia
Di Punden, suasana semakin sakral dan khidmat, terlihat saat tiga dzuriyah Ki Purwo, berpakaian lengkap menyuguhkan tarian Klono, hingga tuntas, 9 menit 10 detik. Ditambah lagi saat prosesi Tarik Kuoat Luar, tradisi satu-satunya di Indonesia untuk meminta kabul hajat dan keselamatan ini.
Sejumlah pegiat seni dan praktisi dari Kediri, Pare, Komunitas Amongjito Mojowarno, Sumobito, Surabaya dan Pojokrejo ini terlihat khusyuk mengikuti doa tahlil, dan ngujub dari Ki Budi,
Usai rangkaian acara tersebut, seluruh hadirin melakukan bancakan tumpeng di atas tikar yang dibeber. Tunpeng dengan lauk ingkung atau panggang ayam, urap-urap, tahu, tempe, dan telur ini dibagikan dan dimakan bersama.
“Suasana ini bagi kita sungguh jadi momentum tak ada duanya. Karena kami keluarga bisa silaturahim dengan semua saudara, baik dekat hingga jauh. Dan makan bersama sambil menikmati tarian Klono, menjadi nikmat, dan mengesankan,” aku Sulastri, usai acara.
Para pengikut dan dzuriyah yang mengikuti acara dari awal hingga prosesi di Punden, kembali ke Sanggar, untuk melakukan persiapan pementasan di panggung Sanggar, sebagai rangkaian akhir Ruwatan Wayang Topeng Ki Purwo, Desa Jati Duwur, Kecamatan Kesamben, agenda rutin Asyuro.


















