Terkini

Muktamar NU, Ada Pesan Moral Profesor Achmad Muhibbin Zuhri Soal Godaan Khawashul Ummah

4
×

Muktamar NU, Ada Pesan Moral Profesor Achmad Muhibbin Zuhri Soal Godaan Khawashul Ummah

Sebarkan artikel ini
Muktamar NU

Dalam konteks Muktamar NU, refleksi tersebut menjadi relevan ketika muncul berbagai isu mengenai dugaan risywah, lobi politik, serta tarik-menarik kepentingan dalam proses organisasi. Namun, persoalan tersebut tidak semestinya diarahkan kepada individu atau kelompok tertentu tanpa bukti yang jelas.

Yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana isu tersebut dapat menjadi cermin moral bagi seluruh warga NU. Muktamar tidak hanya dipahami sebagai forum pemilihan kepemimpinan, tetapi juga sebagai ruang menentukan arah perjalanan jam’iyah dan memperkuat khidmah kepada umat.

Ketika proses organisasi dipengaruhi kepentingan transaksional, persoalannya tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memperoleh kemenangan atau mengalami kekalahan. Hal yang dipertaruhkan adalah marwah organisasi serta kepercayaan umat.

Muhibbin juga mengingatkan bahwa godaan terhadap khawashul ummah, yaitu kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan dan kesalehan lebih tinggi, dapat berlangsung melalui mekanisme pembenaran diri.

Seseorang tidak selalu merasa sedang melakukan kesalahan, bahkan dapat meyakini dirinya tengah memperjuangkan sesuatu yang benar.

Dalam kondisi tersebut, hawa nafsu dapat menyamar sebagai perjuangan. Kepentingan pribadi dapat terlihat sebagai kepentingan umat. Ambisi dapat dianggap sebagai bentuk amanah. Sementara tindakan yang tidak sesuai dengan nilai keadilan dapat dibungkus melalui berbagai alasan pembenaran.

Karena itu, pertanyaan mengenai “mengapa ada kiai tetapi dhalim?” bukanlah semata-mata bentuk penghakiman terhadap kalangan ulama. Pertanyaan tersebut merupakan pengingat moral bagi siapa pun yang memegang amanah, baik ulama, pengurus organisasi, peserta Muktamar, maupun warga NU secara keseluruhan.

Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk melakukan introspeksi. Sebab, godaan tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang secara jelas bertentangan dengan agama.

Terkadang godaan hadir dalam bentuk yang tampak religius, seperti merasa sedang menjaga kelompok, membela organisasi, memenangkan seseorang, atau menganggap dirinya paling memahami kepentingan umat.

Karena itu, ukuran kebenaran tidak hanya dilihat dari siapa yang melakukan suatu tindakan, tetapi juga dari cara yang ditempuh, proses yang dijalankan, niat yang melandasi, serta dampak yang ditimbulkan.

Refleksi Prof. Achmad Muhibbin Zuhri menempatkan Muktamar NU ke-35 sebagai momentum untuk melihat kembali bahwa tradisi keulamaan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya ibadah, tetapi juga tentang kejujuran, keadilan, amanah, dan keberanian menolak berbagai bentuk tindakan yang dapat mencederai kehormatan organisasi.

Godaan terbesar bagi orang baik bukan selalu mengajaknya menjadi buruk. Terkadang godaan justru hadir dengan membuat seseorang melakukan sesuatu yang keliru sambil tetap meyakini bahwa dirinya sedang memperjuangkan kebenaran.

Di titik itulah introspeksi menjadi bagian penting bagi setiap pemegang amanah umat.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60