Terkini

Muktamar NU, Ada Pesan Moral Profesor Achmad Muhibbin Zuhri Soal Godaan Khawashul Ummah

2
×

Muktamar NU, Ada Pesan Moral Profesor Achmad Muhibbin Zuhri Soal Godaan Khawashul Ummah

Sebarkan artikel ini
Muktamar NU

BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 kembali memunculkan refleksi tentang hubungan antara kesalehan pribadi, amanah organisasi, dan godaan moral. Terutama soal isu risywah atau politik transaksional dalam organisasi.

“Lalu mengapa seseorang yang dikenal sebagai kiai, tekun beribadah, dan dekat dengan kehidupan keagamaan masih mungkin terjerumus dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai moral,”

Demikian kegelisahan pengamat Nahdlatul Ulama, Profesor Doktor Achmad Muhibbin Zuhri, terkait tantangan moral bagi seseorang yang memiliki pengetahuan agama tidak selalu hadir dalam bentuk dosa yang mudah dikenali.

Justru, menurut dia, godaan yang paling berbahaya adalah ketika seseorang merasa berada di jalan kebenaran, tetapi tanpa disadari telah masuk dalam perilaku yang menyimpang.

Muhibbin menggambarkan kondisi tersebut sebagai bentuk strategi godaan setan terhadap manusia. Pada tahap awal, godaan biasanya hadir melalui ajakan melakukan dosa dan kemaksiatan secara terbuka.

Namun, bentuk godaan semacam itu masih relatif mudah dilawan melalui kesadaran keagamaan, taubat, istighfar, dan penguatan nilai tauhid.

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika seseorang telah memiliki kedekatan dengan praktik keagamaan. Ketika manusia sudah rajin beribadah, berdzikir, dan beristighfar, menurut Muhibbin, godaan dapat hadir melalui cara yang lebih halus.

“Ketika manusia sudah rajin beribadah, berdzikir dan beristighfar, maka setan akan menggunakan strategi yang lebih advance,” demikian refleksi yang disampaikan Muhibbin.

Dalam kondisi tersebut, godaan tidak lagi berbentuk ajakan meninggalkan agama. Sebaliknya, ia dapat masuk melalui nafsu, kepentingan, ambisi, fanatisme, maupun pembenaran terhadap diri sendiri.

Seseorang dapat merasa sedang memperjuangkan agama, organisasi, atau kepentingan umat, sementara tindakan yang dilakukan justru berpotensi mengarah pada kedzaliman.

Menurut Muhibbin, hal inilah yang perlu menjadi bahan introspeksi serius bagi para ulama dan elite keagamaan. Sebab, kesalehan ritual tidak selalu berjalan seiring dengan kesalehan sosial dan moral.

Seseorang dapat dikenal sebagai tokoh agama, rajin salat, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an, tetapi tetap perlu menjaga diri ketika berhadapan dengan kekuasaan, jabatan, kepentingan kelompok, maupun ambisi pribadi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60