Dalam kesempatan yang sama, ITS juga memperkenalkan inovasi berbasis pendekatan biologis melalui pemanfaatan superworm untuk membantu menguraikan expanded polystyrene (EPS) atau styrofoam.
Teknologi tersebut menjadi salah satu alternatif pengolahan limbah plastik yang selama ini sulit terurai secara alami.
Selain membantu proses degradasi plastik tertentu, pendekatan tersebut berpotensi menghasilkan residu organik, biomassa larva, hingga isolat mikroba dan enzim yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan riset maupun pengembangan teknologi lanjutan.
ITS juga menampilkan Siklusin, platform digital yang dirancang untuk memperkuat tata kelola persampahan melalui sistem pelacakan transaksi secara real time.
Seluruh aktivitas pengelolaan sampah, mulai dari nasabah, bank sampah, hingga industri daur ulang, tercatat dalam satu ekosistem digital yang terintegrasi.
Melalui sistem tersebut, setiap pelaku memperoleh nilai ekonomi yang terukur, sementara pemerintah dapat memanfaatkan data yang terkumpul sebagai dasar penyusunan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih akurat dan berbasis bukti.
Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan pengembangan berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari komitmen kampus dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Ia menjelaskan, ITS telah menyusun peta jalan Net Zero Emission 2026–2030 sebagai arah pengembangan institusi, termasuk memperkuat kolaborasi antara riset akademik, pemerintah, dan dunia industri.
“Saat ini ITS memiliki peta jalan menuju Net Zero Emission 2026-2030, dan kami sangat mengapresiasi dukungan serta kepercayaan yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup terhadap inovasi ITS yang mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, ITS siap menindaklanjuti arahan pemerintah untuk mempercepat implementasi mesin COMPOStech maupun teknologi pengolahan air melalui kerja sama dengan sektor industri.
“ITS siap menindaklanjuti permintaan alat komposter ini, tentunya dengan menggandeng industri untuk produksi massal,” katanya.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Jumhur juga mencoba mobil otonom modular hasil pengembangan tim robotika ITS.
Kendaraan tanpa awak itu menjadi salah satu contoh pengembangan teknologi cerdas yang menunjukkan kapasitas riset ITS di bidang sistem kendali dan otomasi.
Berbagai inovasi yang dipamerkan mencerminkan upaya ITS memperluas peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu melahirkan solusi aplikatif bagi persoalan publik.
Penguatan teknologi pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, digitalisasi tata kelola limbah, hingga kendaraan otonom menjadi bagian dari kontribusi ITS dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, tujuan ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta tujuan ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.


















