Pendidikan

ITS Kembangkan Mobil Listrik Otonom, Songsong Era Tanpa Pengemudi

6
×

ITS Kembangkan Mobil Listrik Otonom, Songsong Era Tanpa Pengemudi

Sebarkan artikel ini
ITS
Dr Rudy Dikairono ST MT bersama mobil otonom yang dikembangkannya bersama tim dari STP ICT dan Robotika ITS.

Melalui sistem yang dikembangkan, kendaraan dapat beroperasi dalam dua mode, yakni manual dan otonom. Pengemudi tetap dapat mengambil alih kendali sewaktu-waktu ketika dibutuhkan.

Rudy yang juga menjabat Manajer Senior Science Techno Park (STP) ICT dan Robotika ITS mengatakan, pendekatan tersebut bertujuan menghadirkan teknologi kendaraan otonom yang lebih terbuka, fleksibel, dan terjangkau.

“Kami ingin menghadirkan solusi otonom yang lebih inklusif dan terjangkau,” katanya.

Dari sisi teknis, sistem yang dikembangkan mengusung konsep modular. Berbagai sensor dipasang untuk membangun kemampuan kendaraan memahami lingkungan sekitar secara real time.

Salah satu komponen utama adalah Light Detection and Ranging (LiDAR), sensor berbasis laser yang mampu mengukur jarak objek dengan tingkat akurasi tinggi.

Sensor tersebut dipadukan dengan sistem Global Positioning System (GPS) dan peta digital sehingga kendaraan mampu mengenali posisi, memetakan kondisi sekitar, sekaligus menentukan jalur perjalanan secara otomatis.

“Kombinasi teknologi ini membuat mobil mampu mengenali lingkungan dan menentukan rute secara mandiri,” ujar Rudy.

Sistem navigasi cerdas yang dikembangkan juga memungkinkan kendaraan melakukan penyesuaian rute sesuai kondisi lalu lintas maupun hambatan yang ditemui di sepanjang perjalanan.

Kemampuan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan kendaraan tanpa pengemudi yang aman dan adaptif.

Seluruh teknologi tersebut telah melalui tahap uji coba di kawasan kampus ITS. Pengujian dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan serta regulasi kendaraan otonom yang berlaku di Indonesia.

Hasil pengujian menunjukkan kendaraan mampu mengenali berbagai objek di depannya, mendeteksi hambatan, kemudian memberikan respons sesuai kondisi jalan secara otomatis.

“Kami terus meningkatkan aspek keamanan agar kendaraan semakin responsif terhadap kondisi jalan,” tutur Rudy.

Tahap pengembangan berikutnya akan difokuskan pada peningkatan kemampuan kendaraan dalam melakukan manuver yang lebih kompleks, seperti menyalip kendaraan lain, menyesuaikan kecepatan secara otomatis, hingga meningkatkan akurasi pengambilan keputusan saat menghadapi situasi lalu lintas yang dinamis.

Rudy menilai teknologi yang dikembangkan tidak hanya relevan bagi industri otomotif. Sistem kendali otonom tersebut memiliki peluang diterapkan pada berbagai sektor lain, termasuk kendaraan pertanian, mesin industri, hingga sistem logistik berbasis robot.

Karena itu, tim peneliti ITS membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri untuk mempercepat proses hilirisasi teknologi sekaligus memperluas implementasi sistem otonom di berbagai bidang.

“Kami terbuka untuk kolaborasi dengan industri agar inovasi ini bisa diimplementasikan lebih luas,” ujar Rudy.

Pengembangan kendaraan otonom tersebut menjadi bagian dari agenda riset ITS dalam memperkuat ekosistem teknologi cerdas nasional.

Inovasi ini juga selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, yang menekankan pentingnya pengembangan teknologi sebagai fondasi pembangunan ekonomi berbasis inovasi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60