Opini

Agus Mustofa: Tafsir Ulul Albab, karya Agus Mustofa yang belum sempat diterbitkan

19
×

Agus Mustofa: Tafsir Ulul Albab, karya Agus Mustofa yang belum sempat diterbitkan

Sebarkan artikel ini
Salah kaprah
Ustaz Ir. H. Agus Mustofa saat mengisi Kajian Subuh di Masjid Al-Haq, Rungkut, Surabaya.

Sebagai orang nuklir, Agus menghendaki semua hal harus ilmiah.

Lebih 60 buku tasawuf modern ia terbitkan. Kalau saja tidak keburu meninggal ia bertekad terus menulis buku. Pun bila jumlahnya sudah mencapai 100 buku.

Saya tidak tahu dari mana Agus Mustofa mendapatkan ilmu agama yang begitu dalam. Termasuk dalam memahami kitab suci. Belakangan ia juga laris sebagai penceramah agama.

Ternyata Agus Mustofa adalah putra Syekh Djapri Karim –tinggal di Malang tapi kelahiran Kalsel. Suku Banjar. Ibunya wanita Jawa keturunan Aceh.

Syekh Djapri Karim adalah mursyid tarekat Nahsabandiah. Ia meninggal tahun 1990 di usia 90 tahun. Di usia tuanya, Syekh Djapri menamakan aliran tarekatnya Nuhsabandiah.

“Saya pernah diberi penjelasan mengapa nama Nahsabandiah diubah menjadi Nuhsobandiah,” ujar Taufik Djapri Karim, adik sang mursyid. “Itu sama dengan Nahsabandiah tapi lebih dalam lagi,” ujar Taufik menirukan penjelasan sang mursyid.

“Setelah beliau meninggal siapa yang meggantikannya sebagai mursyid?”

“Tidak ada. Beliau yakin suatu saat ada keturunannya yang meneruskan,” ujar Taufik.

Agus-lah yang paling punya potensi sebagai penerus. Tapi Agus memilih masuk jurusan teknik nuklir UGM. Setelah jadi sarjana nuklir pun ternyata Agus tidak bisa jauh dari tarekat (tasawuf). Tapi ia pilih tasawuf yang ilmiah –tasawuf modern.

Rupanya dari ayahnyalah Agus memiliki kemampuan ilmu agama. Termasuk dalam hal tarekat. Semua itu baru saya ketahui dua hari lalu ketika saya melayat ke rumahnya di hari keempat kematiannya.

Setelah ia tidak jadi wartawan saya jarang bertemu. Ia juga sibuk dengan dakwahnya. Ia keliling Indonesia. Menulis buku. Bikin rekaman video. Sesekali minta saya menulis kata pengantar untuk buku barunya.

Suatu saat saya mendengar Agus ingin menulis tafsir Quran. Lalu saya menemuinya. Saya tahu ia tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Meski tidak wajib tapi itu bisa dianggap kelemahan. Saya tidak mau Agus dikritik orang di soal yang tidak substantif: tidak pernah mendalami Islam di Timur Tengah.

Maka saya anjurkan Agus untuk ke Timur Tengah. Ia menerima saran saya itu. Ia pergi ke Mesir. Ia tinggal di sana meski tidak lama.

Saya ingat Nurcholish Madjid. Begitu hebat pemikiran pembaharuannya dalam Islam. Tapi ada saja yang tidak bisa menerima hanya karena ia tidak bisa membaca kitab kuning –buku-buku klasik yang ditulis dengan huruf Arab tanpa tanda baca.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60