BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Rabu siang, 11 Februari 2026, menjadi penanda penting dalam hidup Praditya Afrilia. Perempuan kelahiran Mobagu, Sulawesi Utara, itu resmi dilantik dan diambil sumpah sebagai dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa).
Pia, demikian ia akrab disapa, bukan hanya meraih gelar dokter. Ia mencatat sejarah kecil di keluarganya: menjadi dokter pertama di antara garis panjang keluarga pendidik.
Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru di Mobagu. Lingkungan keluarga yang lekat dengan dunia pendidikan membentuk watak disiplin dan nilai pengabdian sejak dini.
Namun, orang tuanya tidak mengarahkan Pia untuk mengikuti jejak sebagai tenaga pendidik. Ketika ia memilih kedokteran, dukungan justru mengalir penuh.
“Ini sangat berarti bagi saya, karena saya dokter pertama di keluarga. Orang tua sangat mendukung sejak awal,” kata Pia selepas prosesi sumpah dokter.
Tumbuh dalam keluarga guru membuatnya akrab dengan gagasan tentang dedikasi sosial.
Ia menyaksikan langsung bagaimana orang tuanya mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak di daerah. Nilai itu yang kemudian ia terjemahkan dalam pilihan profesi: mengabdi melalui layanan kesehatan.
Di tengah kecenderungan dokter muda membangun karier di kota-kota besar dengan fasilitas lengkap, Pia memilih arah sebaliknya.
Ia bertekad kembali ke Mobagu, daerah yang menurutnya masih menghadapi keterbatasan tenaga medis dan fasilitas kesehatan.
Sejak awal menempuh pendidikan kedokteran, bayangan kampung halaman menjadi alasan yang menguatkannya bertahan.
Ia kerap mendengar cerita warga yang menunda berobat karena jarak layanan kesehatan yang jauh.
Tidak sedikit pasien yang harus dirujuk ke daerah lain untuk mendapatkan penanganan lanjutan, dengan konsekuensi biaya dan waktu yang tidak ringan.
“Sejak awal studi di kedokteran, saya punya keinginan membantu kondisi kesehatan di Mobagu. Tenaga kesehatannya masih kurang. Di wilayah-wilayah pelosok, kebutuhan dokter masih sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Bagi Pia, kehadiran dokter di wilayah seperti Mobagu bukan sekadar soal tindakan medis. Ia memaknainya sebagai kehadiran harapan: akses pertolongan yang lebih cepat, edukasi kesehatan yang berkelanjutan, dan rasa aman bagi masyarakat ketika menghadapi sakit.
Momentum pelantikannya hari itu menandai lebih dari sekadar capaian akademik. Ia membawa misi personal yang sederhana namun mendasar: memulangkan ilmu ke tanah yang membesarkannya.
Dalam konteks pemerataan layanan kesehatan di luar Pulau Jawa, pilihan Pia mencerminkan tantangan sekaligus harapan.
Tantangan karena distribusi tenaga medis masih timpang. Harapan karena selalu ada generasi muda yang bersedia kembali, bukan sekadar untuk bekerja, tetapi untuk mengabdi.


















