Profil

Kisah Dokter Nuzlan Nuari, Siap Bangun Layanan Kesehatan Daerah

22
×

Kisah Dokter Nuzlan Nuari, Siap Bangun Layanan Kesehatan Daerah

Sebarkan artikel ini
Unusa

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Di tengah suasana khidmat pengambilan sumpah dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu siang, (11/2/2026), satu nama menyimpan tekad pulang kampung. Ia adalah Nuzlan Nuari, putra Morotai, Maluku Utara, yang baru saja resmi menyandang gelar dokter.

Nuzlan menjadi satu dari 47 dokter baru yang dilantik hari itu. Lahir pada 4 Desember 2001, ia tumbuh sebagai anak kedua sekaligus satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara.

Dalam keluarga yang tidak memiliki latar belakang tenaga kesehatan, pilihannya menempuh pendidikan kedokteran bukan perkara ringan. Namun, kini ia justru berharap dua adiknya kelak mengikuti jejak yang sama.

“Karena kakak saya dan saya sudah menjadi dokter, sepertinya dua adik saya juga ingin mengikuti jejak tersebut, sekaligus memenuhi harapan kedua orang tua,” ujarnya.

Sang kakak, Millatul Fahiroh Thohir, lebih dulu menapaki jalan serupa. Ia menyelesaikan pendidikan kedokteran di Hubei Polytechnic University, Tiongkok, dan kini menjalani program penyetaraan di salah satu rumah sakit di Makassar.

Tradisi baru dalam keluarga itu lahir dari keberanian menembus batas yang sebelumnya asing.

Nuzlan mengakui, fase awal kuliah kedokteran menjadi periode yang paling menantang.

Tanpa fondasi keluarga di bidang medis, ia harus beradaptasi dengan disiplin ilmu yang menuntut ketelitian ekstrem dan daya tahan mental yang kuat.

“Saya tidak membayangkan harus mempelajari anatomi secara sangat detail. Adaptasi juga saya rasakan ketika mengikuti kegiatan pelayanan kesehatan dan saat menjalani pendidikan profesi dokter,” katanya.

Tantangan itu berlanjut saat memasuki fase klinik. Interaksi langsung dengan pasien, ritme kerja rumah sakit, serta tanggung jawab etik dan profesional membentuknya menjadi pribadi yang lebih matang.

Bagi Nuzlan, pendidikan dokter bukan sekadar transmisi ilmu, melainkan pembentukan karakter.

Pengalaman akademiknya tak berhenti di dalam negeri. Ia sempat mengikuti Program Elektif Internasional Health Medicine di RS Sultan Abdul Azis Syah, Universitas Putra Malaysia.

Di rumah sakit tersebut, ia menjalani magang di stroke center dan mempelajari sistem layanan kesehatan yang memiliki pendekatan berbeda dengan Indonesia.

“Kami mahasiswa dari Unusa tidak kalah, baik dari sisi pengetahuan maupun keterampilan. Hal itu diakui langsung oleh dokter pendamping di sana,” ujarnya.

Pengalaman internasional itu memperkuat kepercayaan dirinya sekaligus menjadi pembuktian bahwa fakultas kedokteran yang relatif muda pun mampu bersaing.

Ia menilai kualitas pembelajaran, fasilitas praktikum, serta kompetensi dosen menjadi modal penting dalam membangun daya saing lulusan.

“FK Unusa memang relatif muda, tetapi sudah mampu bersaing. Banyak alumninya diterima di program pendidikan spesialis. Dosen-dosennya juga sangat ahli dan berpengalaman,” katanya.

Namun, ambisi Nuzlan tak berhenti pada capaian akademik. Ia memandang profesi dokter sebagai panggilan sosial. Morotai, daerah kelahirannya di Maluku Utara, menurutnya masih membutuhkan tambahan tenaga medis.

Ketimpangan distribusi dokter antara kota besar dan wilayah kepulauan menjadi realitas yang ingin ia jawab dengan tindakan konkret.

Ke depan, ia berencana kembali mengabdi di Morotai. Dalam jangka panjang, ia bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis bedah saraf atau menempuh program doktoral.

Ia tertarik menggabungkan jalur klinis dan akademis sebagai bentuk kontribusi yang lebih luas.

“Saya tertarik pada jalur klinis sekaligus akademis. Mudah-mudahan keduanya bisa berjalan seiring,” ujarnya.

Alumni SMA Negeri 1 Kraksaan, Probolinggo, itu percaya bahwa pengabdian tidak harus menunggu usia matang.

Bagi Nuzlan, momentum justru terletak pada keberanian generasi muda untuk kembali dan membangun daerahnya sendiri.

Di tengah euforia pelantikan, ia tidak berbicara tentang prestise gelar, melainkan tentang tanggung jawab.

Dari ruang sumpah dokter di Surabaya, ia menatap Morotai—bukan sebagai kenangan masa kecil, melainkan sebagai ruang pengabdian yang menunggu disentuh ilmu dan dedikasi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60