BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Tidak banyak lulusan kedokteran yang memilih kembali ke daerah asal untuk mengabdi setelah menyelesaikan pendidikan. Di tengah kecenderungan tenaga medis mencari peluang di kota besar, langkah itu justru ingin ditempuh Via Dwi Alfiana.
Perempuan asal Desa Sengkol, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tersebut resmi menyandang gelar dokter setelah menjalani pengambilan sumpah dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (21/5/2026).
Di balik prosesi yang berlangsung khidmat itu, tersimpan perjalanan panjang tentang ketekunan, pengorbanan, dan mimpi besar yang tumbuh dari lingkungan desa sederhana.
Via lahir dan tumbuh dalam keluarga yang lekat dengan dunia pelayanan kesehatan. Ayahnya bekerja sebagai perawat, sedangkan sang ibu merupakan seorang bidan.
Sejak kecil, ia terbiasa menyaksikan bagaimana kedua orang tuanya melayani masyarakat tanpa mengenal waktu.
“Ayah saya bekerja sebagai perawat, sedangkan ibu saya seorang bidan. Sejak kecil saya melihat bagaimana mereka membantu pasien dengan penuh kesabaran dan kepedulian,” ujar Via.
Ia masih mengingat bagaimana ibunya kerap dipanggil warga untuk membantu proses persalinan pada malam hari.
Sementara sang ayah tetap berangkat bekerja meski dalam kondisi lelah. Pengalaman itu perlahan membentuk pandangannya tentang arti pengabdian di bidang kesehatan.
“Pengalaman itu menjadi inspirasi besar bagi saya untuk menekuni bidang kedokteran,” lanjutnya.
Masa kecil Via di Sengkol diwarnai kehidupan desa yang hangat dan penuh kedekatan sosial. Ia tumbuh di lingkungan yang masyarakatnya saling mengenal dan memiliki ikatan kekeluargaan kuat.
Namun, dari lingkungan itulah ia mulai memahami persoalan mendasar yang masih dihadapi sebagian masyarakat, terutama terkait akses layanan kesehatan.
“Masa kecil saya di Lombok sangat menyenangkan. Saya tumbuh di lingkungan yang hangat, dekat dengan keluarga besar, dan masyarakat yang saling peduli,” katanya.
Keinginan untuk menjadi dokter kemudian membawanya merantau ke Surabaya demi menempuh pendidikan di FK Unusa.
Keputusan meninggalkan kampung halaman untuk pertama kalinya bukan perkara mudah. Ia harus beradaptasi dengan kehidupan baru sekaligus menghadapi ritme pendidikan kedokteran yang dikenal ketat dan penuh tekanan.
“Tentu pernah merasa ingin menyerah. Ada masa ketika tugas sangat banyak dan tekanan cukup besar. Tapi saya selalu mengingat tujuan awal saya, dan dukungan keluarga menjadi sumber semangat terbesar,” tuturnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya mencapai titik penting ketika dirinya resmi dilantik sebagai dokter.
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya karena Via merupakan dokter pertama di keluarga besar mereka.
“Gelar ini menjadi kebahagiaan besar bagi saya dan keluarga. Saat pertama kali merawat pasien, saya benar-benar merasa bahwa ilmu yang dipelajari selama ini akhirnya bisa digunakan untuk membantu orang lain,” ujarnya.
Meski telah menyelesaikan pendidikan dokter, Via mengaku tidak ingin menjauh dari tanah kelahirannya. Ia justru bertekad kembali ke Lombok untuk mengabdikan diri bagi masyarakat di daerah asal.
Menurut dia, perkembangan layanan kesehatan di Lombok terus mengalami peningkatan. Namun, masih terdapat sejumlah wilayah yang membutuhkan penguatan akses pelayanan kesehatan serta edukasi masyarakat terkait pentingnya pencegahan penyakit.
Karena itu, ia ingin hadir tidak hanya sebagai tenaga medis, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di daerahnya.
“Saya ingin memberikan pelayanan kesehatan yang baik, meningkatkan edukasi masyarakat, serta membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pencegahan penyakit,” katanya.
Via juga berharap masyarakat di Sengkol dan Lombok Tengah semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak dini dan tidak ragu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Perjalanan Via dari lorong-lorong kecil Desa Sengkol hingga ruang sumpah dokter di Surabaya menjadi gambaran bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari mana saja.
Dengan disiplin, kerja keras, dan dukungan keluarga, ia berhasil menembus berbagai keterbatasan demi mewujudkan cita-cita yang sejak lama ia perjuangkan.
“Jangan takut bermimpi besar. Asal disertai kerja keras, disiplin, dan doa, tidak ada yang tidak mungkin,” pesannya.


















