BERITABANGSA.ID, MALANG – Menjelang kontestasi Pilwali Kota Malang, pamflet dan banner calon wali kota semakin marak menghiasi pemandangan di berbagai sudut kota hingga ke pelosok perkampung.
Mereka seolah berlomba memperkenalkan senyuman calon wali kota kepada warga yang kebingungan masalah ekonomi dan anaknya yang hendak mendaftar sekolah negeri yang sangat terbatas tanpa solusi.
Meski belum memasuki masa kampanye pamflet bergambar calon kontestasi adu gengsi dan paling banyak bannernya dan diduga tak berizin menjadi pemandangan ironis yang lazim jelang Pilwali Kota Malang 2024.
Berdasarkan pengamatan jurnalis BERITABANGSA.ID di lapangan pengenalan calon melalui banner bisa dinilai sosok pemimpin seperti apa yang sedang dipertontonkan kepada rakyat, terlepas dari jargon lamis para calon.
Sportif dan berjiwa kesatria dalam menaati aturan Perda menjadi penilaian pertama calon wali kota seperti apa karakternya tergambar jelas patut dan tidaknya calon pemimpin yang layak dipilih.
Dari sekian banyak banner bertebaran yang benar-benar taat pajak dan berizin berdasarkan temuan di lapangan sementara ini hanya Ahmad Fuad Rahman dan Moch.
Karis yang bisa dikatakan taat aturan bayar pajak, sedang calon yang lain masih dipertanyakan.
“Terlepas siapa yang mencalonkan, jika sejak dalam proses pencalonan wali kota saja tidak sportif, tidak bayar pajak dan sewenang-wenang pasang banner di mana-mana karena punya kuasa, jika terpilih apa gak bikin kacau tatanan dan peraturan, pasti jika terpilih jelas sak karep e dewe,” ujar salah satu warga Lowokwaru.
Adu skill memperbanyak Banner sebenernya bagus, hitung-hitung ada pemasukan daerah dari sektor pajak, sayang masih ada yang memanfaatkan fasilitas menggunakan simbol pemerintah seperti agenda terselubung yang tidak ada korelasinya dengan pajang foto calon secara diduga gratisan hingga jadi rasanan dimasyarakat.
“Calon wali kota yang tidak taat aturan seperti apa itu apakah masih layak dipilih?” tanya salah satu warga.
Sebelumnya, Arif Wahyudi anggota DPRD Kota Malang dalam diskusi WAG pengaduan, pun turut berkomentar, hal tersebut terkait masalah kepatutan dan kewajaran.
“Ngono yo ngono, tapi ojok ngono,” mungkin dia sudah “Kebelet kampanye,” komennya.
Ditimpali Fajar inisiator dialogika “Ngono yo ngono, ning ojo Semono,” lanjut fajar tertawa.


















