BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Budaya warisan leluhur Tarian Klono, dari Wayang Topeng Ki Purwo Jati Duwur Jombang, kembali beraksi di Sahid Hotel, Surabaya, Rabu, 9 September 2026 lalu.
Tarian Klono, merupakan tarian khas Majapahit yang diyakini sering ditampilkan khusus untuk menyambut tamu kehormatan dan tamu penting. Tarian Klono, yang gerakannya ‘alusan’ (baca, halus) diyakini tarian khas Majapahit yang tersisa. Kini, keberadaannya dilestarikan oleh Yayasan Sanggar Seni Tri Purwo Budoyo, Jati Duwur, Kesamben, Jombang, Jatim.
Sosok pembawa tarian di masa lalu adalah Ki Purwo, pertapa yang diduga masih terkait dengan Resi Myagan, Mojoagung, yang merupakan Resi yang hidup di era akhir Prabu Kertanegara Singasari, hingga akhir masa pemerintahan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, 1292 – 1315 Masehi.
Di Sahid Surabaya -hotel legend- yang berornamen banyak lukisan dan aksara Jawa kejayaan Majapahit ini, sosok pendiri Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT), Isma Hakim Rahmat, menari di hadapan tamu acara Stadium General, oleh Dewan Pers , bersama Mabes Polri, rangkaian Musyawarah Nasional KJJT Indonesia.
Hadir pula para Kapolres Gerbangkertasusila, Gresik, Surabaya, Perak, Polrestabes, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Kepala Diskominfo Jatim, dan para anggota KJJT Indonesia dari berbagai daerah.
Tarian Klono dimainkan berdurasi 9 menit 10 detik. Iringan musik gamelannya ciri khas CekDong, ala Majapahitan. Dengan memakai Topeng khas warna emas dan kehitaman ini, Mas Hakim menari dengan penuh filosofi dan sarat arti.
Sementara Wismantu, announcer atau master pf ceremony, yang juga penyiar Radio Suara Surabaya ini membacakan narasi singkat. ia menyebut Topeng Klono, ini diduga kuat adalah warusan turun temurun yang didapat Ki Purwo saat bertapa di Ringin Jati Duwur, kini disebut Punden.
Oleh Ki Purwo, dua buah topeng sepasang itu, kemudian dikembangkan dengan cara menciptakan topeng topeng berkarakter wajah lainnya, hingga berjumlah 33 karakter. Kini, tersimpan rapi di kediaman dzuriyah (keturunan,red) Ki Purwo, di Desa Jati Duwur.
Usai menari, Mas Hakim, yang ditemui wartawan mengaku bisa menari karena dipaksa oleh takdir dan keadaan.
Dia kini dipercaya mengemban tugas di Yayasan Tri Purwo Budoyo, untuk mengawal pelestarian seni pertunjukkan wayang topeng Jati Duwur, yang sudah berpredikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional sejak 2018 ini, agar lestari dan berkembang.
Tarian Klono, diakui sebagai tarian yang harus dimainkan di paling awal setiap acara, termasuk saat pentas wayang Topeng Jati Duwur. Tidak boleh ditempatkan di tengah atau akhir acara. Di acara apapun Tarian Klono, diharuskan ditempatkan di awal acara.
“Jangan ditaruh di sesi setelah penampilan lainnya, karena bisa berakibat acara tidak lancar,” ujar Mas Hakim, yang mengaku hanya berniat menjaga tradisi itu.
Menurut Mas Hakim, Desa Jati Duwur, selain memiliki warisan Majapahit berupa tarian dan seni pertunjukkan drama Wayang Topeng, juga masih banyak peninggalan Majapahit lainya.
Dia meriyebut ada Bale Kambang yang penuh bata zaman Majaphit, lalu KedungMojo, Watu Ireng, dan Rawa Majenang. Belum lagi sumur dan bata umpak yang sudah terkubur. Tempat – tempat itu ditemukan benda-benda yang diyakini diproduksi di era Majapahit.















