Bahkan ada volklor yang menyatakan bahwa Gayatri, putri Kartanegara Singasari, istri Raden Wijaya yang merupakan ibunda Raja Majapahit III, Tribuwana Tunggadewi ini jejak pertapaannya saat menjadi Budhis ada di Desa Jati Duwur.
“Di area TPU desa kita ditemukan bata andesit berpahat angka nol dan angka satu. Kalau menurut sebagian budayawan dan sejarawan, batu itu bekas candi pertapan, di era awal Majapahit dan akhir Singasari,” ujar Mas Hakim.
Oleh masyarakat era Kolonial, candi itu dirobohkan dan lokasinya dijadikan pemakaman untuk mencegah dikeramatkan orang.
Cerita kemunculan sosok putri cantik, tinggi semampai, kulit putih, hidung mancung, personfikasi Gayatri sering didengar. Bahkan istilah danyang Jati Duwur adalah juga seorang perempuan cantik. Kemunculannya kadang dibarengi topeng warna emas dan keris kecil sepanjang 25 cm warna emas.
Di era tahun 1954, Desa Jati Duwur ditetapkan oleh Kepala Desa Muntakib, saat itu. Meniadakan nama lama yakni, Desa Mbuwur (yang belakangan baru diketahui tertulis di buku Negara Kertagama).
Mas Hakim, mengatakan seni wayang Topeng Jati Duwur atau Wayang Topeng Ki Purwo heritage adalah seni pertunjukkan drama tari dilengkapi dalang dan sinden. Dulunya ada pasangannya, wayang kulit krucil.
Wayang krucilnya hilang dan diduga dijual ke orang Tabanan, Bali. Sedangkan gong guci dan gamelan lain masih terawat baik di sanggar Tri Purwo Budoyo.
Seni Wayang topeng Ki Purwo, diduga subur di era Majapahit karena sebagai perlawanan sastra impor, cerita Ramayana Mahabarata. Seni wayang Topeng Jati Duwur, mengangkat tema tema sastra tokoh Panji Asmorobangun, dan Dewi Sekartaji.
“Kesenian background cerita Panji inilah yang kemudian menyebar. Karena kebijakan Raja Majapahit, yang kala itu meminta semua negara jajahannya mengirim penari untuk ditampilkan di Istana negara Majapahit setiap bulan,” beber Mas Hakim.
Kata dia, semua raja Majapahit, mulai dari Raden Wijaya, Jayanegara, Tribuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, hingga Brawijaya adalah sosok penari Topeng.
“Bahkan creator tari yang melegenda itu ya Raja Tribuwana Tungga Dewi Rajaputri Majapahit, anak dari Gayatri,” jelas Mas Hakim lagi.
Mas Hakim mengapresiasi KJJT Indonesia yang telah memfasilitasi seni Wayang Topeng Jati Duwur itu untuk ditampikan. Dengan demikian publik akan semaki mengenal dan memahami Wayang Topeng Ki Purwo, ini.
“Terbukti, Bu Kadis Kominfo baru tahu tarian ini, padahal kita sejak 2018 udah WBTB,” ujar Mas Hakim, menirukan obrolan para peserta Munas dan Stadium General KJJT Indonesia.















