Terkini

Survei ARCI, Suara PDIP Sidoarjo Anjlok Disalip Golkar

1
×

Survei ARCI, Suara PDIP Sidoarjo Anjlok Disalip Golkar

Sebarkan artikel ini
ARCI

BERITABANGSA.ID, SIDOARJO – Kekuatan politik Sidoarjo menunjukkan perubahan menarik. Survei Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI) periode 1–10 Agustus 2026 tidak hanya merekam tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Subandi–Mimik, tetapi juga menangkap pergeseran preferensi elektoral terhadap partai politik di Sidoarjo.

Jika pada periode-periode sebelumnya PDIP dikenal sebagai salah satu kekuatan politik utama dan konsisten berada di papan atas, survei ARCI kali ini menunjukkan perubahan cukup mencolok.

“PDIP berada di posisi keempat dengan 8,3 persen, setelah PKB 22,5 persen dan Gerindra 14,4 persen. PDIP bahkan dibawah Golkar yg naik signifikan yaitu 9,1 persen,” kata Nanang Haromain Direktur ARCI saat penyampaian hasil survei. Rabu, (26/08/2026).

Nanang menambahkan, Posisi Gerindra menjadi salah satu temuan penting karena partai tersebut kini berhasil menggeser PDIP dari posisi dua besar.

Di bawahnya terdapat PAN 7,1 persen, PKS 4,5 persen, NasDem 4,2 persen, Demokrat 4,2 persen, PSI 4,1 persen dan PPP 1,7 persen. Sebanyak 11,8 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.

“Kenaikan Gerindra tentu dapat dibaca sebagai keberhasilan partai membangun penerimaan baru di tengah pemilih Sidoarjo. Namun, pada saat yang sama, turunnya posisi PDIP juga menjadi temuan yang tidak kalah penting,” imbuhnya.

Masih menurut Nanang, Pertanyaannya kemudian bukan hanya mengapa Gerindra naik, tetapi juga mengapa PDIP kehilangan sebagian daya tarik elektoralnya?

Salah satu kemungkinan yang patut diperhatikan adalah dinamika internal PDIP Sidoarjo pasca proses suksesi kepemimpinan DPC. Konflik atau ketegangan internal, jika kemudian terbaca oleh publik, dapat meninggalkan residu politik dan memengaruhi persepsi terhadap partai.

Namun ARCI tidak menyimpulkan bahwa penurunan elektabilitas PDIP semata-mata disebabkan konflik internal. Survei ini tidak secara khusus menguji hubungan kausal tersebut. Karena itu, dinamika internal lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu hipotesis yang perlu diuji melalui riset lanjutan.

“Yang jelas, data survei menunjukkan bahwa basis elektoral bukan sesuatu yang permanen. Partai yang selama bertahun-tahun berada di papan atas tetap dapat mengalami perubahan posisi ketika persepsi publik berubah,” jlentreh Nanang.

Politik Sidoarjo Masih Sangat Cair

Dari keseluruhan temuan tersebut, ARCI melihat politik Sidoarjo sebagai arena yang masih sangat cair.

PKB masih menjadi kekuatan elektoral terbesar, Gerindra menunjukkan kenaikan yang signifikan, sementara PDIP menghadapi pekerjaan rumah untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama.

Di sisi lain, tingkat undecided atau yang belum menentukan pilihan masih mencapai 11,8 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pertarungan elektoral ke depan masih terbuka.

Karena itu, survei ini sebaiknya tidak dibaca sebagai ramalan hasil pemilu, melainkan sebagai potret persepsi masyarakat Sidoarjo saat survei dilakukan.

“Bagi partai politik, pesannya sederhana: tidak ada posisi yang benar-benar aman. Popularitas masa lalu tidak otomatis menjadi modal elektoral masa depan. Yang menentukan adalah bagaimana partai mampu membaca perubahan masyarakat, menjaga soliditas internal, dan menerjemahkan politik ke dalam kebutuhan konkret warga,” Pungkas Nanang.

Survei ARCI dilaksanakan pada 1–10 Agustus 2026 dengan 800 responden menggunakan metode Stratified Multistage Random Sampling, margin of error ±3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60