Terkini

Diduga Karena Ego Kades Mulyorejo, Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen dan Petani Jadi Korban

3
×

Diduga Karena Ego Kades Mulyorejo, Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen dan Petani Jadi Korban

Sebarkan artikel ini

BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Ramai menjadi perbincangan ratusan hektare lahan persawahan di Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, terancam gagal panen akibat tidak mendapat pasokan air diduga akibat sengketa pengelola jasa perairan dan pihak desa. Hingga akhir Juni 2026, para petani mengaku belum dapat mengolah lahan maupun menanam padi karena sawah masih mengalami kekeringan.

Padahal, pada musim tanam sebelumnya, pengolahan lahan biasanya sudah dimulai sekitar Maret hingga paling lambat Mei. Mundurnya masa tanam tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya hasil produksi pertanian, bahkan memicu gagal panen.

Salah seorang warga Desa Mulyorejo yang meminta dirahasiakan namanya mengaku para petani menjadi pihak yang paling dirugikan dalam polemik pengelolaan pengairan sawah yang hingga kini belum menemukan penyelesaian. Menurutnya, dampak paling nyata adalah mundurnya masa tanam karena hingga akhir Juni 2026 pasokan air ke area persawahan belum juga tersedia.

“Kami tidak tahu sebenarnya persoalannya seperti apa. Yang kami tahu, sampai sekarang belum ada air sehingga sawah tidak bisa diolah, apalagi ditanami padi. Yang dirugikan ya masyarakat kecil seperti kami,” ujarnya.

Narasumber tersebut menilai keputusan Pemerintah Desa Mulyorejo terkait pengelolaan pengairan sawah belum diikuti dengan kesiapan yang memadai. Menurut penilaiannya, kondisi itu menyebabkan para petani harus menanggung dampak dari persoalan yang terjadi.

“Kalau memang pemerintah desa ingin mengambil alih pengelolaan areal, seharusnya semuanya dipersiapkan lebih dulu. Jangan sampai karena ego atau arogansi dalam mengambil keputusan, masyarakat yang menjadi korban. Kami tidak ikut dalam persoalan itu, tetapi kami yang sekarang kehilangan waktu tanam dan terancam gagal panen,” tegasnya.

Dia menambahkan, para petani tidak mempermasalahkan siapa pihak yang mengelola pengairan sawah. Yang mereka harapkan hanyalah air segera mengalir agar aktivitas pertanian dapat kembali berjalan normal.

“Bagi kami, siapa pun yang mengelola tidak masalah. Yang penting sawah kami mendapat air. Jangan sampai petani dijadikan korban akibat persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan tanpa merugikan masyarakat,” pungkasnya.

Untuk mengonfirmasi persoalan tersebut, ditelah mewawancarai kepada Kepala Desa Mulyorejo. Kepala desa memberikan penjelasan mengenai kronologi permasalahan, namun meminta agar keterangannya tidak dikutip maupun dipublikasikan dalam pemberitaan.

Di sisi lain, pengusaha jasa pengairan sawah, Sugeng, mengaku tidak mengetahui alasan dirinya tidak lagi diperbolehkan mengelola pengairan sawah di Desa Mulyorejo.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60