Terkini

Diduga Karena Ego Kades Mulyorejo, Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen dan Petani Jadi Korban

3
×

Diduga Karena Ego Kades Mulyorejo, Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen dan Petani Jadi Korban

Sebarkan artikel ini

Menurut Sugeng, pada Februari 2026 dirinya dipanggil ke Balai Desa Mulyorejo untuk mengikuti musyawarah. Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Desa menawarkan tiga opsi, salah satunya membeli seluruh aset miliknya, termasuk pompa air beserta fasilitas pendukung lainnya.

Sugeng mengaku pada prinsipnya bersedia menjual aset tersebut kepada pemerintah desa. Namun, ia keberatan karena hanya diberikan waktu satu hari untuk menentukan nilai aset yang dimilikinya.

“Saya hanya diberi waktu satu hari. Saat saya datang lagi, Pak Kades mengatakan saya sudah terlambat sehingga peralatan saya tidak jadi dibeli. Pernah juga ada penawaran membeli peralatan saya dengan harga barang bekas, menurut saya itu sangat merugikan,” kata Sugeng.

Dirinya telah mengelola pengairan sawah di Desa Mulyorejo selama kurang lebih 16 tahun. Selama itu pula ia mengaku telah menginvestasikan modal sekitar Rp1,2 miliar untuk membeli peralatan serta membangun gardu listrik.

“Saya mengareal di Mulyorejo sudah 16 tahun. Peralatan yang saya beli beserta gardu listrik yang saya bangun nilainya sekitar Rp1,2 miliar,” jelasnya.

Kades Mulyorejo
Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro dan salah satu lahan warga yang kekeringan.
Foto: Suyati/Beritabangsa.id

Meski saat ini tidak lagi mengelola pengairan sawah, Sugeng mengaku tetap siap membantu mengairi lahan pertanian apabila Pemerintah Desa Mulyorejo kembali memberikan izin.

“Saya siap jika pemerintah desa mengizinkan saya mengairi sawah lagi. Bahkan kalau sistem bagi hasil untuk saya diperkecil pun saya siap, yang penting sawah petani bisa kembali mendapat air,” ungkapnya.

Selama ini sistem kerja sama dengan pemerintah desa menggunakan mekanisme bagi hasil sebesar 15 persen dari hasil usaha pengairan yang dia kelola.

“Dari sistem bagi hasil itu, rata-rata setiap musim panen saya bisa memberikan pemasukan untuk desa sekitar Rp150 juta. Karena dalam setahun biasanya ada dua musim tanam, maka total pemasukan untuk desa mencapai sekitar Rp300 juta per tahun,” tuturnya.

Seluruh peralatan pengairan miliknya, termasuk pompa air, hingga kini masih berada di Desa Mulyorejo. Dia sengaja tidak memindahkannya karena masih berharap dapat membantu masyarakat apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Alat saya masih berada di Mulyorejo. Kalau ada petani yang membutuhkan dan diperbolehkan menggunakannya, silakan. Saya tetap ingin mengabdi kepada masyarakat Mulyorejo mengapa saya begini karena saya putra desa asli Mulyorejo. Kalaupun nanti porsi untuk desa diperbesar dan keuntungan saya sangat kecil, saya tidak masalah. Yang penting alat itu bisa dimanfaatkan untuk membantu petani mendapatkan air,” pungkasnya.

Saat awak media ini mencoba berupaya memperoleh tanggapan resmi Kepala Desa Mulyorejo Subekhan dan diberikan penjelasan. Namun, kepala desa meminta keterangannya tidak dikutip dalam pemberitaan.

Apabila di kemudian hari Pemerintah Desa Mulyorejo bersedia memberikan pernyataan resmi atau menggunakan hak jawab, akan memuatnya sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60