Terkini

Lumajang Darurat Begal dan Curanmor, Warga Rindukan Aksi Tim Cobra Polres

149
×

Lumajang Darurat Begal dan Curanmor, Warga Rindukan Aksi Tim Cobra Polres

Sebarkan artikel ini
Tim Cobra
Mantan Tim Cobra yang dirindukan masyarakat

BERITABNGSA.ID, LUMAJANG – Kabupaten Lumajang kembali dihantui gelombang kriminalitas jalanan. Kasus begal, pencurian kendaraan bermotor (curanmor), hingga pencurian dengan kekerasan (curas) semakin nekat dan brutal. Hampir setiap pekan, bahkan nyaris setiap hari, kabar kehilangan motor, aksi penjambretan, hingga korban luka akibat melawan pelaku beredar luas di media sosial.

Di tengah situasi yang dinilai makin mencekam itu, masyarakat mulai merindukan satu nama yang dulu sempat menjadi momok bagi para pelaku kejahatan: Tim Cobra Polres Lumajang.

Nama Tim Cobra pernah begitu harum saat kepemimpinan Arsal Sahban sebagai Kapolres Lumajang.

Bersama Hasran yang kala itu dikenal sebagai Komandan Regu Tim Cobra sekaligus Kasat Reskrim, satu per satu pelaku begal, curwan, curanmor hingga curas berhasil dibekuk tanpa pandang bulu.

Bahkan, kala itu para pelaku kejahatan disebut-sebut lebih takut mendengar nama Tim Cobra dibanding hukuman penjara.

“Dulu kalau dengar Tim Cobra turun, penjahat langsung kabur keluar kota. Sekarang malah seperti tidak ada takutnya lagi,” ujar Sule (40), warga Kecamatan Klakah, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, kondisi keamanan di Lumajang saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Warga merasa waswas saat keluar malam, terutama di jalan-jalan sepi dan kawasan minim penerangan.

“Sekarang motor diparkir sebentar saja sudah khawatir hilang. Dulu masyarakat merasa aman karena polisi benar-benar hadir dan tegas,” katanya lagi.

Hal senada disampaikan Siti Aminah, warga Kecamatan Tempeh. Ia mengaku maraknya aksi kriminal membuat masyarakat trauma.

“Banyak kabar begal viral di media sosial. Ada yang dilukai, ada yang motornya dibawa kabur. Kami kangen polisi yang benar-benar turun langsung ke lapangan seperti dulu,” ungkapnya.

Belakangan ini, sejumlah pamflet peringatan tentang begal dan curanmor juga ramai beredar di Facebook, WhatsApp hingga TikTok. Dalam pamflet itu, warga diimbau berhati-hati saat keluar malam dan diminta tidak melintas sendirian di titik-titik rawan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: akankah Tim Cobra muncul kembali?

Pengamat sosial asal Lumajang, Achmad Nurhuda menilai kerinduan masyarakat terhadap Tim Cobra bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk keresahan publik terhadap situasi keamanan saat ini.

“Tim Cobra dulu bukan hanya soal penindakan tegas, tapi juga simbol hadirnya negara di tengah ketakutan masyarakat. Ada efek psikologis yang kuat. Penjahat takut, masyarakat merasa dilindungi,” bener pria berambut gondrong ini.

Ia mengatakan, keberhasilan Tim Cobra kala itu juga ditopang pola komunikasi yang dekat dengan masyarakat. Polisi tidak hanya menangkap pelaku, tetapi juga membangun rasa percaya publik.

“Yang dirindukan warga sebenarnya bukan sekadar nama Cobra, tapi ketegasan, keberanian, dan kedekatan aparat dengan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, sejumlah warga berharap jajaran kepolisian saat ini mampu menghadirkan kembali semangat pemberantasan kriminalitas secara serius dan masif.

“Kalau perlu bentuk lagi Tim Cobra. Biar pelaku begal tahu kalau Lumajang bukan tempat aman buat penjahat,” ujar seorang warga Pasirian.

Maraknya aksi kriminal ini menjadi alarm keras bagi keamanan di Lumajang. Kota yang dikenal dengan julukan kota pisang dan memiliki potensi pertambangan pasir terbesar itu kini justru dibayangi rasa takut di jalanan.

Masyarakat kini menunggu langkah nyata aparat penegak hukum. Sebab bagi mereka, rasa aman bukan sekadar janji, melainkan kebutuhan yang harus benar-benar dirasakan.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60