BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Tradisi halalbihalal diisi salam-salaman, sungkeman dan maaf memaafkan di Hari Raya Idulfitri telah mentradisi di Indonesia, tidak ditemukan di negara Muslim lainnya.
Ambil contoh acak, seperti acara halal bihalal reuni keluarga besar Bani Achmad Toha di Kelurahan Citrodiwangsan, Kecamatan Lumajang ini yang rutin digelar setiap tanggal 2 Syawal. Tradisi halalbihalal yang terjaga.
Digelar di rumah almarhum Rahmat Jubaidi, atau Pak De Mat, di Kecamatan Tekung, sejak pukul 10.00 WIB dan dihadiri seluruh anggota keluarga lintas generasi.
Bani Achmad Toha sendiri terdiri dari sembilan keluarga besar yang kini telah berkembang hingga memiliki anak, cucu, bahkan cicit. Menariknya, kegiatan ini sebagian besar diorganisasi oleh generasi muda, yakni cucu dan cicit dari Achmad Toha.
Salah satu anggota keluarga, Nanang Samsul Huda, mengatakan bahwa tradisi ini terus dijaga secara turun-temurun dan dilaksanakan secara bergiliran di rumah masing-masing anggota keluarga.
“Untuk tahun 1447 Hijriah atau 2026 ini dilaksanakan di rumah almarhum Pak De Mat di Tekung. Setiap tahun memang bergantian, supaya semua keluarga bisa menjadi tuan rumah,” ujarnya kepada media ini, Minggu (22/3/2026).
Ia menambahkan, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan yang mungkin jarang terjalin karena kesibukan masing-masing.
“Tujuan utamanya agar tali silaturahmi tidak terputus. Apalagi sekarang keluarga sudah besar, sampai cucu dan cicit. Momen seperti ini sangat penting,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaannya, acara diisi dengan salam-salaman, doa bersama, serta sungkeman kepada anggota keluarga yang lebih tua. Suasana haru dan keakraban terasa kental saat satu per satu anggota keluarga saling bermaafan.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari jaringan keluarga yang lebih luas, yakni Bani Achmad Dhurar, yang menunjukkan bagaimana budaya halalbihalal mampu memperkuat hubungan sosial lintas generasi dan cabang keluarga.
Sekadar diketahui, istilah halalbihalal sendir berasal dari bahasa Arab dan akulturasi bahasa Indonesia.
Di sana mengandung esensi makna yang mengakar kuat berupa silaturahmi dan saling memaafkan, sesuai ajaran Islam.
Di berbagai daerah, tradisi ini berkembang dikemas bermacam- macam dan unik. Sanak saudara keluarga yang jauh di seberang pun mengkhususkan diri untuk pulang kampung alias mudik.
Biasanya dipusatkan di rumah orangtua, saudara tertua atau keluarga tertua yang masih hidup. Sehingga perayaan Idulfitri di Indonesia terasa lebih penuh makna.
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi halalbihalal, salam-salaman, dan sungkeman tetap bertahan sebagai identitas budaya Indonesia. Menjadu jembatan ajaran beragama dengan kehidupan sosial masyarakat.


















