BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Data dokumen, tutur, saksi bangunan, dan jejak yang menyatakan Bung Karno, atau Presiden I RI lahir di Ploso, Jombang, 6 Juni 1902 valid. Pemerhati sejarah di Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif kembali menegaskan hal itu mengingat wilayah Ploso, adalah masuk wilayah Karesidenan Surabaya di zaman itu.
Kabupaten Jombang sendiri kata Cak Arif, baru berdiri pada 1910 seiring dilantiknya Bupati Jombang pertama, RAA Soeroadiningrat V yang juga dikenal dengan Kanjeng Sepuh Jombang.
Kali ini, Cak Arif membeberkan sejumlah data yang menguatkan hal tersebut. Di antaranya, data tertulis ‘beseluit’ atau Surat Keputusan (SK) tugas ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya tertanggal 28 Desember 1901. Di Ploso, Raden Soekeni berdinas hingga 1907.
“Raden Soekeni mulai bertugas di Ploso pada tanggal 28 Desember 1901,” kata Cak Arif, Minggu (14/02/2026).
Kemudian, dia juga menunjukkan data tertulis lainnya yakni, tulisan tangan ayah Bung Karno. Di mana pada data tersebut dituliskan jika Raden Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1902.
“28 Desember 1901 ayah Bung Karno mulai berdinas di Ploso, 6 bulan kemudian Bung Karno lahir. Dan tahun 1907, ayah Bung Karno pindah dari Ploso ke Sidoarjo, ini ada SK-nya juga,” terang Cak Arif.
Tak hanya itu, Cak Arif juga menunjukkan data tertulis lainnya yang menunjukkan bahwa Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902. Data tersebut yakni, arsip ITB atau THS. Di situ, dituliskan bahwa Raden Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1902.
Lebih lanjut dia kemudian menunjukkan data laporan pekerjaan sipil era Hindia Belanda tepatnya pada 1894 di mana di data itu dituliskan penyebutan Surabaja (Surabaya) untuk desa-desa yang saat ini masuk wilayah Kabupaten Jombang.
Seperti Desa Wuluh, Pojokrejo, Gumulan, Kedungboto (Podoroto), yang kini masuk Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, dan Semanden yang terkonfirmasi adalah Dusun Semaden, Desa Kepuhdoko, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang.
Pada data itu dituliskan ‘In Surabaja heeft men in den rechter Brantasdijk de volgende irrigatiesluizen’ :
1. Toeri vour 2333 baoes
2. Semanden ,, 251 ,,
3 Goemoelan ,, 391 ,,
4. Kedoengboto ,, 315 ,,
5. Djoembatan ,, 539 ,,
6. Potjokredjo ,, 528 ,,
7. Woeloeh ,, 374 ,,
Lantas, Cak Arif menjelaskan tentang data laporan pekerjaan sipil era Hindia-Belanda tersebut.
“Kurang lebih artinya, di Surabaya di kanan Brantas, dibangun saluran irigasi : Turi untuk 2333 bahu, Semanden untuk 251 bahu, Goemoelan untuk 391 bahu, Kedoengboto untuk 315 bahu, Djoembatan untuk 539 bahu, Potjokrejo untuk 528 bahu, Woeloeh untuk 374 bahu. Ini luas areal pertanian dengan satuan bahu,” beber Cak Arif.
“Nah dengan penyebutan Surabaja atau Surabaya terhadap desa-desa yang sekarang masuk Kabupaten Jombang, menandakan pada masa itu wilayah Kabupaten Jombang memang bagian dari Karesidenan Surabaya,” ungkapnya.
Maka kata Cak Arif, sangat masuk akal jika kelahiran Bung Karno pada 6 Juni 1902 itu ditulis dengan Surabaya.
“Jadi Surabaya yang dimaksud adalah Ploso bagian dari Karesidenan Surabaya,” tandas dia.
Dia juga menambahkan, hal itu sesuai pula dengan narasi sejarah yang ditulis pada buku biografi Bung Karno berjudul ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia’ yang ditulis oleh penulis Amerika, Cindy Adams pada 1966.
Di mana pada salah satu paragraf di buku itu dituliskan ‘karena bapak merasa tidak disukai orang di Bali, ia kemudian mengadjukan permohonan kepada Departemen Pengadjaran untuk dipindahkan ke Djawa. Bapak dikirim ke Surabaja dan disanalah putera sang fadjar dilahirkan’.
“Jadi yang dimaksud Surabaja di sini adalah Ploso, yang waktu itu masuk wilayah Karesidenan Surabaya, dan kini ikut (kabupaten) Jombang,” pungkas Cak Arif.


















