Pemerintahan

Pasar Kerja Berubah, Menaker Dorong Generasi Muda Bangun Multi-Skill

23
×

Pasar Kerja Berubah, Menaker Dorong Generasi Muda Bangun Multi-Skill

Sebarkan artikel ini
Menaker

BERITABANGSA.ID, LAHAT – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak pada kemampuan lama di tengah perubahan teknologi dan ekonomi global yang kian cepat.

Anak muda yang enggan menambah keterampilan baru, menurutnya, berisiko kehilangan peluang kerja dan tersisih dari persaingan pasar tenaga kerja yang semakin ketat.

“Untuk menang dalam persaingan lokal dan global, kita tidak cukup mengandalkan satu kompetensi. Be unique, be different, be a champion. Model kompetensi sudah bergeser,” kata Yassierli saat memberikan kuliah umum di Kabupaten Lahat, Senin, 9 Februari 2026.

Peringatan itu mencerminkan perubahan struktural dalam dunia kerja. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan pergeseran pola ekonomi global mendorong lahirnya sektor-sektor baru.

Ekonomi digital dan kreatif, pemanfaatan artificial intelligence, care economy, hingga ekonomi berkelanjutan kini menjadi sumber pertumbuhan sekaligus penyerapan tenaga kerja baru. Konsekuensinya, pekerja dituntut lebih adaptif, terutama generasi muda yang berada di fase awal karier.

Dalam konteks tersebut, Yassierli menilai paradigma “cukup satu keahlian” tidak lagi relevan. Ia menyebut sekitar 59 persen pekerja di dunia diperkirakan perlu mempelajari keterampilan baru agar tetap selaras dengan kebutuhan industri.

Angka itu, menurutnya, menunjukkan besarnya tantangan sekaligus peluang bagi tenaga kerja muda untuk melakukan pembaruan kompetensi secara berkelanjutan.

Perubahan kebutuhan industri juga tercermin pada model kompetensi yang kini dibutuhkan. Jika sebelumnya dunia kerja mengutamakan spesialisasi tunggal, saat ini perusahaan cenderung mencari talenta dengan kemampuan berlapis dan saling terhubung.

Yassierli menggambarkannya melalui konsep T-Shaped, yakni mendalam di satu bidang namun memiliki pemahaman lintas disiplin. Model Pi-Shaped dengan dua keahlian utama, hingga M-Shaped atau multi-spesialisasi terintegrasi, menjadi gambaran skillset yang perlu dibangun generasi muda.

Untuk membuka akses pengembangan keterampilan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat peran Balai Latihan Kerja sebagai pusat pelatihan vokasi yang adaptif.

Yassierli menegaskan BLK tidak lagi sekadar mengajarkan keterampilan konvensional, melainkan diarahkan sebagai ruang pembentukan talenta yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini.

Ia menambahkan, kunci agar proses peningkatan kompetensi berjalan konsisten terletak pada growth mindset. Tanpa sikap mental untuk terus belajar dan beradaptasi, pekerja akan tertinggal. Yassierli mengingatkan sekitar 50 persen pekerjaan di industri diprediksi akan berubah dalam 10 tahun ke depan, sehingga kemampuan untuk belajar ulang menjadi keharusan.

“Tantangan kita hari ini adalah pekerja yang tidak mau belajar hal baru. Padahal growth mindset adalah kunci manusia untuk beradaptasi. Teruslah belajar di balai-balai kami,” ujarnya.

Selain menyiapkan kompetensi individu, Yassierli juga menyoroti perubahan peta peluang ekonomi di daerah. Menurutnya, ekonomi digital tidak lagi terpusat di kota-kota besar.

Sekitar 70 persen pengguna digital baru kini berasal dari daerah, membuka ruang pertumbuhan bagi UMKM dan ekonomi kreatif di luar pusat-pusat ekonomi lama.

Kabupaten Lahat, kata Yassierli, memiliki potensi besar untuk memanfaatkan momentum tersebut. Namun peluang itu hanya dapat diwujudkan jika ekosistem ketenagakerjaan dibangun secara kolaboratif.

Ia mendorong sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengembangan talenta lokal.

“Permasalahan tenaga kerja tidak akan selesai hanya oleh seorang Menteri atau satu Kementerian. Pemerintah daerah harus menjadi penggerak utama,” katanya.

Pernyataan Yassierli menegaskan bahwa isu ketenagakerjaan bukan semata persoalan penyerapan tenaga kerja, melainkan investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia.

Di tengah perubahan yang tidak terelakkan, kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi menjadi penentu apakah generasi muda akan menjadi penonton atau pemain dalam ekonomi masa depan.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60