Terkini

Festival Ramadan Tompokersan 2026 Alternatif Sentralistik Alun-alun

35
×

Festival Ramadan Tompokersan 2026 Alternatif Sentralistik Alun-alun

Sebarkan artikel ini
Festival Ramadan
Panitia Festival Ramadan Tompokersan 2026 sedang berdiskusi

BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Konsentrasi kegiatan ekonomi Ramadan yang selama ini terpusat di kawasan Alun-Alun Kota Lumajang disorot. Kini, Pemuda Kelurahan Tompokersan menginisiasi Pemuda Festival Ramadan 2026 sebagai alternatif pusat ekonomi Ramadan berbasis kelurahan.

Festival akan digelar selama 25 hari penuh di bulan Ramadan 1447 Hijriah ini, digagas berlokasi di Embong Kembar, depan rumah makan Pondok Iga, dengan menyediakan 100 stand bazar UMKM berbiaya sewa terjangkau.

Menurut Ketua Panitia, Sudarmoko, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial Ramadan, tetapi bagian dari upaya pemerataan ekonomi rakyat yang selama ini belum sepenuhnya disentuh kebijakan kota.

“Setiap Ramadan, ekonomi rakyat selalu menumpuk di satu titik. Akibatnya, pedagang kecil di wilayah kelurahan hanya jadi penonton. Festival ini kami dorong sebagai bukti bahwa pusat ekonomi Ramadan bisa tumbuh di luar Alun-Alun,” tegasnya, Sabtu (7/2/2026).

Ia menilai, tanpa kebijakan yang mendorong pemerataan ruang usaha, UMKM kecil akan terus kalah bersaing dengan pelaku usaha bermodal besar yang lebih mudah mengakses lokasi strategis.

Dari sisi pemerintah kelurahan, kegiatan ini dipandang sebagai contoh konkret desentralisasi ekonomi skala mikro. Penanggung jawab kegiatan dari Kelurahan Tompokersan menyatakan dukungan terhadap inisiatif pemuda yang dinilai sejalan dengan semangat pembangunan partisipatif.

“Pemerataan ekonomi tidak cukup hanya dengan wacana. Harus ada ruang nyata di tingkat kelurahan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa warga mampu mengelola pusat ekonomi Ramadhan secara mandiri dan tertib,” ujarnya lagi.

Festival Ramadan Tompokersan 2026, direncanakan akan beroperasi mulai H+2 Ramadan, yaitu tanggal 21 Februari 2026, setiap hari pukul 15.00–22.00 WIB, mengusung konsep pasar rakyat, ngabuburit, hiburan religi, hingga kegiatan sosial. Panitia juga menyiapkan pasar murah sembako yang dikoordinir Koperasi Pemasaran Mitra Nusa Mandiri sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat.

Bagi pelaku UMKM, biaya sewa stand Rp50.000 per hari dinilai lebih inklusif dibandingkan sejumlah lokasi Ramadhan lain yang cenderung mahal dan selektif.

“Kalau semua kegiatan Ramadan dipusatkan di satu lokasi, yang kecil pasti tersingkir. Dengan model seperti ini, pedagang kecil masih punya kesempatan bertahan,” kata Wati, pedagang takjil asal Tompokersan.

Warga sekitar pun menyambut positif kehadiran festival ini. Selain mendekatkan akses ekonomi, kegiatan tersebut dinilai mengurangi beban kemacetan dan kepadatan di pusat kota.

“Selama ini Ramadan identik dengan macet di Alun-alun. Kalau ada titik-titik baru seperti ini, warga tidak perlu jauh-jauh dan ekonomi bisa lebih merata,” ujar Achmad, warga setempat.

Pengamat kebijakan publik menilai, munculnya inisiatif berbasis kelurahan seperti Festival Ramadan Tompokersan seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penataan ekonomi musiman.

Tanpa keberpihakan pada pemerataan ruang usaha, Ramadan berpotensi terus melahirkan ketimpangan baru ramai di pusat kota, sepi di wilayah pinggiran.

Festival Ramadan Tompokersan 2026 menjadi contoh bahwa pemerataan ekonomi tidak selalu menunggu kebijakan dari atas, tetapi bisa dimulai dari inisiatif warga di tingkat lokal.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60