Terkini

Kompetisi Geoteknik 2025 di ITS, Adu Inovasi Perkuatan Lereng

254
×

Kompetisi Geoteknik 2025 di ITS, Adu Inovasi Perkuatan Lereng

Sebarkan artikel ini
Geoteknik
Komisaris Utama PT Teknindo Geosistem Unggul, Ir. Wahyu P. Kuswanda didampingi Direktur Azmi L. Wahyu, ST., MT saat memantau peserta GEC 2025. (Foto: Mwd, Beritabangsa.id).

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Babak final Geotechnical Engineering Competition (GEC) 2025 menghadirkan persaingan ketat antar 11 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Final yang berlangsung di Kampus Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sabtu (15/11/2025), menjadi panggung bagi para mahasiswa teknik sipil untuk membuktikan presisi desain dan ketahanan prototipe perkuatan lereng yang mereka kembangkan.

Direktur Teknik Teknindo Geosistem Unggul, Azmi Lisani Wahyu, menegaskan bahwa penyelenggaraan kompetisi tahun ini dirancang lebih komprehensif.

“Kami ingin melihat sejauh mana peserta mampu memadukan pemahaman teoritis dengan pengujian praktis. Proposal mereka memberi gambaran perencanaan, sementara prototipe menunjukkan bagaimana teori itu bekerja di lapangan,” ujarnya.

Tahap presentasi perencanaan yang digelar sehari sebelumnya menyumbang 60 persen nilai, sedangkan demonstrasi prototipe pada hari final menentukan 40 persen sisanya.

Dari total 38 tim dari 17 perguruan tinggi yang ikut seleksi awal, hanya 11 yang berhak tampil di final. Komposisi finalis terdiri atas empat tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dua dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dua dari ITS, serta masing-masing satu tim dari Universitas Palangka Raya, Universitas Brawijaya, dan Universitas Katolik Parahyangan.

Pada sesi uji final, setiap tim mempresentasikan model perkuatan lereng berbahan pasir yang kemudian dibebani dengan ember berisi batu pecah seberat sekitar 32,5 kilogram. Proses ini mensimulasikan beban rencana pada kondisi asli di lapangan.

Azmi L. Wahyu, ST., MT., Direktur PT Teknindo Geosistem Unggul saat wawancara. (Foto: Mwd, Beritabangsa.id).

“Kami ingin melihat kapan titik runtuhnya dan bagaimana desain mereka menjaga kestabilan sebelum beban mencapai ambang batas,” kata Azmi.

Ia juga menyoroti relevansi kompetisi dengan kondisi Indonesia yang rawan longsor. “Banyak wilayah kita berada pada zona rawan, terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kompetisi ini memberikan pengalaman nyata tentang pentingnya rekayasa geoteknik dalam mitigasi bencana,” tambahnya.

Tahun ini, peserta menggunakan geosintetik berbahan spunbond, material yang kian banyak diterapkan sebagai biotekstil dalam proyek perkuatan lereng.

Salah satu finalis, Clarissa Aurelia, mahasiswa Teknik Sipil UGM semester 7, menjelaskan tantangan yang mereka hadapi. “Kami menggunakan pasir Lumajang dengan kemiringan 2:1. Secara desain sudah matang, tetapi saat konstruksi, beberapa paku pengikat sempat keluar dari posisi,” tuturnya.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60