Panitia kemudian memberi solusi dengan menambahkan lapisan gabus agar struktur kembali stabil. Clarissa menyebut penggunaan geotekstil sangat membantu.
“Material ini bukan hanya menguatkan, tetapi juga berfungsi sebagai filtrasi dan pemisah tanah, sehingga lebih efektif dalam menjaga kestabilan lereng.”

Ketua Pelaksana GEC 2025, Angger Retro, menyampaikan bahwa tahun ini kompetisi mengusung tema Emphasizing Green Constructions.
“Fokusnya adalah penghematan material dan keberlanjutan. Peserta harus merancang konstruksi yang tidak hanya kuat, tetapi juga efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Menurut Angger, tantangan terberat bagi peserta adalah memastikan akurasi antara perencanaan dan proses konstruksi.
“Material yang digunakan memiliki karakteristik berbeda. Ketidaktepatan satu milimeter saja bisa berpengaruh pada stabilitas akhir.”
Ia juga menjelaskan perubahan format dibanding kompetisi tahun lalu. “Tahun sebelumnya desainnya berupa timbunan tegak dan retaining wall. Tahun ini kami beralih ke timbunan miring 2V:1H dan penggunaan geotekstil, supaya lebih dekat dengan praktik konstruksi hijau yang saat ini terus dikembangkan,” katanya.
Sebagai sponsor tetap selama 11 tahun dan didukung Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) dalam lima tahun terakhir, Teknindo Geosistem Unggul berharap kompetisi ini dapat menjadi wadah regenerasi ahli geoteknik nasional.
“Kami ingin finalis terbaik bisa mendapatkan akses menuju forum ilmiah HATTI agar inovasi mereka tidak berhenti hanya di kompetisi,” tutur Azmi.
Di akhir Azmi menambahkan, GEC 2025 kembali menjadi ajang yang menghubungkan teori, praktik, dan inovasi.
Ia menyebut, Kompetisi ini tak hanya menguji kemampuan teknis mahasiswa, tetapi juga membentuk cara pandang baru tentang pentingnya teknologi geoteknik dalam mencegah longsor dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.


















