Pendidikan

Sinergi UNUSA dan Pemerintah Desa Parseh Tekan Kasus Stunting di Bangkalan

20
×

Sinergi UNUSA dan Pemerintah Desa Parseh Tekan Kasus Stunting di Bangkalan

Sebarkan artikel ini
Stunting

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Kasus stunting masih menjadi tantangan besar di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, khususnya di Desa Parseh, Kecamatan Socah, yang berjarak sekitar 31 kilometer dari Surabaya.

Berdasarkan data lapangan, rendahnya pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam memantau tumbuh kembang anak menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka stunting di wilayah tersebut.

Banyak keluarga di Desa Parseh belum memiliki pemahaman yang memadai tentang gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan balita.

Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan literasi kesehatan keluarga, terutama pada periode krusial 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Sekretaris Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kabupaten Bangkalan, Eri Yadi Santoso, mengungkapkan bahwa pada 2021 angka stunting di Bangkalan mencapai 38,9 persen.

Angka tersebut sempat turun hingga 10 persen pada 2023, namun kembali meningkat menjadi 17,7 persen pada 2024.

“Harapannya pada 2025 ini kami bisa menurunkan sesuai target di bawah 14,7 persen,” tegasnya.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, tim dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) dan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri, yang dipimpin oleh Doktor Ika Mardiyanti, bersama Doktor Wiwik Winarningsih, serta Krisnita Dwi Jayanti, melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Sinergi Pemberdayaan Keluarga dengan Tim Pendamping Keluarga dalam Upaya Pencegahan Stunting di Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Program ini merupakan bagian dari kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia 2025.

Dukungan pendanaan ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menurunkan angka stunting melalui kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Kampung KB Desa Parseh ini melibatkan berbagai peserta, mulai dari kader Tim Pendamping Keluarga (TPK), calon pengantin, ibu hamil, hingga ibu dengan balita.

“Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, tim dosen bersama mahasiswa memberikan pelatihan mengenai upaya pencegahan stunting sejak masa pra-nikah, pentingnya gizi seimbang, pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pelatihan pijat tuina, serta teknik pemantauan pertumbuhan anak secara berkala,” jelas Ika Mardiyanti.

Ika menambahkan bahwa melalui pelatihan ini, diharapkan Tim Pendamping Keluarga beserta keluarga di Desa Parseh memiliki keterampilan dalam menjaga tumbuh kembang anak secara optimal.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60