Terkini

Reward Minim, Atlet Lumajang Ragu Geluti Cabor

36
×

Reward Minim, Atlet Lumajang Ragu Geluti Cabor

Sebarkan artikel ini
Reward
Salah satu atlet yang meraih medali emas di Porprov 2025

BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Sejumlah orang tua atlet di Kabupaten Lumajang angkat bicara soal reward atau bonus yang diberikan kepada putra-putri mereka usai meraih prestasi di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2025.

Menurut mereka, besaran reward yang diterima dinilai kurang menjanjikan, bahkan bisa membuat atlet enggan bertahan di cabang olahraga yang selama ini mereka tekuni penuh pengorbanan.

“Kalau untuk atlet perorangan memang masih terasa pantas. Tapi untuk beregu, jujur rasanya miris. Nilainya sama, tapi karena dibagi rata dengan jumlah personel, jadinya kecil sekali,” ungkap wali atlet yang ogah dinamakan, Senin (8/9/2025).

Ia menambahkan, di era pemerintahan sebelumnya, reward yang diberikan kepada atlet terasa lebih besar meskipun aturan yang digunakan sama.

“Dulu ada atlet yang dapat tiga perunggu dan satu perak, bisa membawa pulang sekitar Rp10 juta dari Pemkab dan Rp5 juta dari KONI. Sekarang nilainya lebih kecil, padahal Perbupnya sama,” ujarnya.

Kabar soal menurunnya besaran reward ini pun menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat, terutama bagi keluarga atlet yang selama ini menjadi pendukung utama mereka dalam berlatih.

Menanggapi isu itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Lumajang, Zainul Rofiq, menjelaskan pemberian reward masih mengacu pada aturan yang berlaku. Ia menyebut besaran bonus atlet sudah ditetapkan melalui Peraturan Bupati (Perbup) nomor 27 tahun 2024 tentang Standar Biaya dan Satuan Harga.

“Medali emas Rp20 juta, medali perak Rp15 juta, dan medali perunggu Rp10 juta. Untuk beregu memang berbeda, tidak sama dengan perorangan. Itu sudah ada aturannya dalam Perbup,” jelas Zainul.

Ia menegaskan, mekanisme pembagian reward bagi atlet beregu bukan keputusan sepihak, melainkan telah sesuai regulasi sejak era Bupati Indah Amperawati biasa disapa Bunda Indah.

Meski begitu, perdebatan mengenai besaran reward atlet ini menunjukkan adanya kegelisahan yang cukup serius. Atlet dianggap sebagai aset daerah yang tidak hanya membawa nama baik Lumajang, tetapi juga membangun prestasi olahraga jangka panjang.

Jika penghargaan yang diberikan dinilai kurang layak, dikhawatirkan semangat atlet untuk terus berlatih dan bertahan di cabang olahraga bisa menurun. Hal ini pada akhirnya berpotensi memengaruhi kualitas prestasi Lumajang di ajang olahraga berikutnya.

Para orang tua atlet berharap agar pemerintah daerah dapat meninjau ulang skema pemberian reward, terutama untuk cabang beregu, agar sejalan dengan semangat kebersamaan dan kerja keras yang ditunjukkan para atlet di lapangan.

“Anak-anak ini kan berjuang bukan untuk dirinya sendiri, tapi membawa nama daerah. Alangkah baiknya kalau penghargaan yang diberikan juga bisa lebih memotivasi mereka untuk terus berprestasi,” pungkas wali atlet.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60