Berdasarkan data yang disampaikan Wamenag, sebanyak 42 persen pesantren sasaran telah memperoleh manfaat MBG. Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan agar program dapat dirasakan lebih luas.
Wamenag juga menjelaskan adanya peluang bagi pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 orang untuk mengelola dapur MBG secara mandiri. Pesantren tidak harus membangun dapur baru dengan model Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi dapat memanfaatkan dapur yang sudah tersedia dengan memenuhi standar kebersihan dan higienitas.
“Dapur yang ada di-update. Yang perlu ditambah adalah higienisnya, tentang pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbahnya. Kalau itu bisa dipenuhi, pesantren yang santrinya mendekati atau sekitar 1.000 sudah bisa membuat dapur sendiri, tidak perlu harus mendapat asupan dari dapur yang ada di luar pesantren,” jelasnya.
Ketua Yayasan Manbaul Hikam KH Abdul Wachid Harun menjelaskan, Pesantren Manbaul Hikam telah menerima program MBG selama sekitar tiga bulan. Selama ini, makanan dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00 WIB, menyesuaikan jadwal pendidikan madrasah yang dimulai pukul 13.00 WIB.
Pada Selasa (1/9), sebanyak 1.010 porsi makanan MBG dari SPPG Kalitengah dikirim untuk siswa-siswi MA dan MTs Manbaul Hikam. Menu yang diterima terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.
Setelah makanan disantap bersama, beberapa jam kemudian sejumlah santri mulai mengalami keluhan kesehatan. Sekitar pukul 16.00 WIB, para santri mengeluhkan kondisi seperti pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas.
Pengurus pesantren kemudian membawa santri yang mengalami keluhan ke bidan terdekat di Desa Putat untuk mendapatkan penanganan awal.
Sekitar pukul 16.30 WIB, jumlah santri yang mengalami keluhan mual dan muntah terus bertambah hingga mencapai puluhan orang. Menjelang Magrib, pengurus pesantren menghubungi layanan ambulans untuk mengevakuasi para santri ke fasilitas kesehatan. Total terdapat sembilan rumah sakit yang menjadi tujuan penanganan.
Keluhan kesehatan para santri dilaporkan muncul secara bertahap. Sebagian mengalami keluhan pada malam hari, kemudian kembali ditemukan kasus serupa pada Rabu pagi dan siang.
Kementerian Agama memastikan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memperoleh hasil pemeriksaan secara menyeluruh mengenai penyebab kejadian tersebut.
Pada kesempatan itu, Kementerian Agama juga menyerahkan santunan kepada pihak pesantren dan para santri terdampak sebagai bentuk kepedulian serta dukungan terhadap proses pemulihan para santri.


















