Meski masih minim pengalaman, mereka dinilai menunjukkan perkembangan signifikan setelah menjalani proses latihan yang intensif.
Film ini, kata Miss Nana, tidak menawarkan horor yang hanya mengandalkan unsur kejutan. Cerita justru dibangun melalui pesan moral mengenai kepedulian antarmanusia.
“Kalau entitas bisa membantu manusia, kenapa manusia sendiri tidak bisa saling membantu,” katanya.
Ia menjelaskan karakter Delon dipilih karena dinilai mampu menghadirkan nuansa humor yang alami sehingga pesan moral dalam film dapat diterima penonton tanpa terasa menggurui.

Coach ARTV School, Miss Lie Chen, mengatakan setiap cerita yang diproduksi ARTV selalu berusaha menghadirkan nilai pendidikan.
Fajar’s Last Project mengajak penonton memahami pentingnya membedakan kebaikan dan keburukan, sekaligus menanamkan semangat untuk saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Miss Lie Chen, proses membimbing anak-anak di dunia seni membutuhkan dedikasi yang jauh melampaui kemampuan teknis.
“Kami mempunyai tag line, ketika ingin menyukseskan mereka, semangat kami tidak hanya seratus persen, tetapi dua ratus persen. Harapannya, energi yang diterima anak-anak tetap maksimal. Transfer semangat itu membutuhkan perhatian dan kesabaran yang luar biasa,” ujarnya.
Komitmen tersebut menjadi fondasi utama ARTV School dalam membina talenta muda. Lembaga ini tidak hanya mengajarkan teknik akting, tetapi juga membentuk karakter, melatih public speaking, ekspresi, olah vokal, kepercayaan diri, etika bekerja di industri hiburan, hingga kemampuan beradaptasi di lokasi syuting.


















