BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Kabupaten Lumajang kembali mencuri perhatian publik nasional. Kali ini bukan bencana erupsi Semeru, namun hadirnya film horor “Lastri: Arwah Kembang Desa” dengan setting keindahan wisata di kaki Gunung Semeru.
Disutradarai oleh Hendry Tivo, film horor ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 16 Juli 2026. Tak hanya menawarkan kisah penuh teror, film ini juga menjadi karya layar lebar terakhir mendiang aktor Gery Iskak, menjadikannya memiliki nilai historis sekaligus emosional bagi dunia perfilman Indonesia.
Alih-alih mengandalkan efek visual buatan, tim produksi justru memilih menghadirkan ketegangan melalui karakter asli alam Lumajang. Kabut yang turun perlahan, bukit-bukit hijau, jembatan aliran lahar, hingga hamparan pasir vulkanik Semeru menjadi “aktor” yang ikut menghidupkan setiap adegan.
“Kami sengaja memilih kaki Gunung Semeru karena memiliki karakter visual yang kuat. Alam di sini bukan hanya menjadi latar, tetapi ikut membangun emosi, ketegangan, dan misteri di sepanjang cerita,” ujar sutradara Hendry Tivo kepada awak media ini, Sabtu (4/7/2026).
Beberapa titik ikonik dipilih sebagai lokasi syuting, di antaranya kawasan Teras Semeru yang menyuguhkan panorama pegunungan dengan kabut alami, jembatan aliran lahar yang menghadirkan kesan sunyi dan mencekam, serta hamparan pasir vulkanik yang memperkuat nuansa horor.
Karakter geografis tersebut dinilai sulit ditemukan di daerah lain sehingga memberikan identitas visual yang khas bagi film ini.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman berbeda. Penonton bukan hanya menyaksikan cerita horor, tetapi juga merasakan bagaimana alam Semeru ikut ‘bernapas’ bersama cerita,” ujar Hendry.
Pemilihan Lumajang sebagai lokasi syuting dinilai menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi daerah melalui industri perfilman nasional.
Pengamat pariwisata menilai film memiliki kekuatan besar dalam membangun citra destinasi. Keindahan alam yang tampil di layar lebar berpotensi menarik wisatawan untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang muncul dalam film.
“Film dapat menjadi promosi yang sangat efektif. Ketika penonton penasaran dengan lokasi syutingnya, maka sektor pariwisata, ekonomi kreatif, hingga UMKM lokal juga berpeluang ikut merasakan dampaknya,” tambah Hendry lagi.
Di balik kemegahan visualnya, “Lastri: Arwah Kembang Desa” juga menyimpan makna mendalam karena menjadi penampilan terakhir mendiang Gary Iskak di layar lebar.
Keikutsertaan aktor senior tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu alasan kuat masyarakat untuk menyaksikan film ini sekaligus mengenang perjalanan kariernya di industri perfilman Indonesia.
Berbeda dengan film horor yang hanya mengandalkan jumpscare, “Lastri: Arwah Kembang Desa” berusaha membangun rasa takut melalui suasana, kesunyian, serta karakter alam yang autentik.
Kabut Semeru, dinginnya udara pegunungan, jalur lahar, hingga bentangan pasir vulkanik menjadi kekuatan utama yang menyatu dengan alur cerita.
Film ini diproyeksikan tidak hanya menjadi tontonan horor, tetapi juga etalase keindahan alam Lumajang yang dikemas dalam balutan cerita penuh misteri.
Dengan jadwal tayang pada 16 Juli 2026, publik kini menantikan apakah “Lastri: Arwah Kembang Desa” mampu menjadi film horor yang sukses di box office sekaligus mengangkat nama Lumajang sebagai salah satu lokasi syuting paling eksotis dan ikonik di Indonesia.


















