Melalui pengenalan budaya sekolah sejak hari pertama, peserta didik diharapkan memahami tata nilai, etika pergaulan, tanggung jawab sebagai pelajar, hingga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan akademik.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk pribadi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan spiritual.
Dalam kesempatan itu, Iqbal juga menyoroti pentingnya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan.
Ia mengaku prihatin terhadap berbagai kasus perundungan yang masih terjadi di sejumlah sekolah dan menegaskan bahwa SMA Khadijah telah membangun sistem pencegahan secara menyeluruh.
Menurutnya, sekolah melibatkan unsur kesiswaan, guru bimbingan dan konseling, wali kelas, seluruh tenaga pendidik, hingga orang tua dalam membangun komitmen bersama untuk mencegah perundungan sejak awal masa pendidikan.

“Kami sudah menjelaskan seluruh aturan secara rinci dan tertulis. Siswa memahami apa yang harus dilakukan apabila menjadi korban, saksi, maupun pelaku apabila suatu saat menghadapi persoalan tersebut,” katanya.
Selain pembinaan, sekolah juga memperkuat pengawasan melalui pemasangan kamera CCTV di seluruh area sekolah yang beroperasi selama 24 jam.
Sistem tersebut memungkinkan setiap aktivitas yang berpotensi mengarah pada pelanggaran disiplin dapat segera terdeteksi dan ditindaklanjuti.
Di sisi lain, pembentukan karakter terus diperkuat melalui kurikulum pesantren kota yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Para siswa memperoleh pembelajaran agama secara rutin, termasuk kajian keislaman yang secara berkala disampaikan langsung oleh Kepala SMA Khadijah sebagai bagian dari upaya menanamkan akhlak, etika, dan budaya saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.


















