BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan inovasi di sektor teknologi pertanian. Melalui Science Techno Park (STP) Otomotif, ITS mengembangkan traktor perahu listrik yang dirancang khusus untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan gambut.
Inovasi tersebut menjadi solusi atas tantangan mekanisasi pertanian di kawasan berlahan basah yang selama ini sulit dijangkau traktor konvensional.
Teknologi tersebut mulai menarik perhatian Kementerian Pertanian (Kementan) RI setelah menjalani uji coba di area lahan gambut Kampus ITS, Selasa (14/7/2026).
Desain traktor yang menyerupai perahu menjadi pembeda utama dibandingkan alat pertanian pada umumnya. Bentuk tersebut memungkinkan kendaraan tetap memiliki daya apung sehingga mampu beroperasi di lahan basah tanpa mudah terperosok atau tenggelam.
Rektor ITS Bambang Pramujati mengatakan, pengembangan teknologi tepat guna menjadi salah satu fokus ITS dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjawab tantangan pertanian di berbagai karakteristik lahan di Indonesia.
“Berbeda dengan traktor pada umumnya, kendaraan taktis pertanian ini didesain menyerupai bentuk kapal agar mampu bergerak optimal di atas lahan basah tanpa risiko tenggelam,” ujarnya.
Ketua tim peneliti sekaligus Manajer STP Otomotif ITS, Bambang Sudarmanta menjelaskan, sistem elektrifikasi pada traktor tersebut mengombinasikan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan teknologi kendaraan listrik.
Pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan operasional di lahan gambut, tetapi juga mengurangi tekanan terhadap struktur tanah sehingga lebih ramah lingkungan.
Menurutnya, penggunaan motor listrik memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya operasional dibandingkan traktor berbahan bakar bensin maupun solar.
Selain biaya energi yang lebih rendah, kendaraan tersebut juga menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih kecil sehingga mendukung konsep pertanian berkelanjutan.
“Selain itu, sistem ini akan meminimalisir degradasi struktur tanah serta mendukung pertanian berkelanjutan yang rendah emisi,” jelas Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut.
Secara teknis, traktor perahu listrik itu menggunakan motor listrik berdaya 10 kilowatt (kW). Sistem penggeraknya dirancang mengutamakan torsi tinggi dibandingkan kecepatan sehingga mampu menghasilkan tenaga besar untuk aktivitas membajak sawah.
Kendaraan juga dibekali panel display elektronik yang memungkinkan operator memantau kondisi baterai, suhu, hingga tegangan listrik secara real time.
Keunggulan lain terletak pada respons torsi motor listrik yang berlangsung seketika ketika tuas akselerasi diaktifkan.
Karakteristik tersebut membuat tenaga penuh dapat langsung disalurkan untuk menggemburkan tanah tanpa jeda seperti pada mesin pembakaran konvensional.
Dari sisi spesifikasi, sistem kelistrikan bekerja pada tegangan sekitar 72 volt dengan arus 32 ampere sehingga menghasilkan daya sekitar 10 kW.
Traktor menggunakan baterai berkapasitas 140 ampere-hour (Ah) yang mampu menopang operasional selama tiga hingga empat jam dalam sekali pengisian penuh.
Berdasarkan hasil pengujian, kapasitas tersebut diperkirakan cukup untuk membajak lahan seluas satu hektare. Simulasi dilakukan pada lahan berukuran 100 meter x 100 meter dengan implement bajak selebar 1,8 meter.
Dalam skenario tersebut, traktor membutuhkan sekitar 56 lintasan dengan total jarak tempuh mencapai 5,6 kilometer untuk menyelesaikan seluruh area.
Meski menunjukkan performa yang menjanjikan, tim peneliti masih terus melakukan penyempurnaan. Pada uji lapangan sebelumnya, sistem sempat mengalami kendala berupa peningkatan suhu komponen saat beroperasi dalam waktu lama.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menambahkan sistem pendingin sebagai bagian penting dari pengembangan generasi berikutnya.
Selain dirancang mampu bekerja di lahan gambut, traktor ini juga menggunakan ban karet sehingga tetap dapat melaju di jalan raya menuju lokasi pertanian tanpa memerlukan alat angkut tambahan.
Fleksibilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan mobilitas petani sekaligus menekan biaya distribusi alat pertanian.
Pengembangan traktor perahu listrik ini juga selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kedua tentang penghapusan kelaparan melalui peningkatan produktivitas pertanian, tujuan ketujuh mengenai energi bersih dan terjangkau, serta tujuan kesembilan yang berfokus pada penguatan industri, inovasi, dan infrastruktur.


















